January 28, 2016

[Book Review] Heroes

Sumber: Goodreads

Judul : HEROES: Para Pahlawan Pilihan
Penulis : Tim Kick Andy & Arif Koes H.
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : pertama, Juli 2011
Tebal : xxii + 206 halaman
ISBN : 978-602-8811-50-7

Di Indonesia sendiri, oleh orang dewasa, dalam hal ini misalnya guru, anak-anak –ya, setidaknya saya pribadi– “dibisiki” bahwa pahlawan adalah orang yang rela mengorbankan nyawanya untuk merebut dan membebaskan Indonesia dari para penjajah. Kemudian, sosoknya digambarkan seperti Pangeran Diponegoro, Jendral Soedirman, Ki Hajar Dewantara, dan kawan-kawan mereka yang lain.

Semakin dewasa, semakin saya sadar bahwa gambaran pahlawan yang demikian agaknya terlalu muluk. Terlalu tinggi, hingga kita lupa akan orang-orang di lingkungan kita yang juga rela berkorban. Ibu, misalnya, bukankah beliau juga berkorban, dalam hal ini melahirkan kita ke dunia? Dalam level yang lebih luas, relawan medis yang ditempatkan di daerah penuh huru-hara, misalnya. Bukankah mereka juga pantas untuk disebut pahlawan?

[Book Review] Nyanyian Akar Rumput

Sumber: Goodreads

Judul : Nyanyian Akar Rumput
Penulis : Wiji Thukul
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : kedua, Maret 2015
Tebal : 248 halaman
ISBN : 978-602-03-0289-8

Jujur saya bingung harus menuliskan apa untuk membahas buku ini. Tiba-tiba apa yang ada dipikiran saya sebelumnya hilang dan tak menyisakan ampas. Hmmm... mungkin ini pertanda bahwa saya harus menuliskan kesan terhadap buku ini secara ringkas saja.

Ah, baiklah! Pertama, yang jelas, buku ini merupakan antologi puisi. Ratusan puisi di dalamnya terbagi ke dalam tujuh bagian. Secara keseluruhan, puisi-puisi yang ditulis oleh Wiji Thukul di sini memiliki keberpihakan pada masyarakat akar rumput. Hal ini, bagi saya, wajar saja sebab sang penyair sendiri berasal dari keluarga dengan “kelas” tersebut. Dan semakin wajar mengingat bahwa dirinya adalah salah satu aktivis HAM.

January 27, 2016

[Book Review] Si Parasit Lajang

Sumber: Goodreads

Judul : Si Parasit Lajang
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : ketiga, Februari 2015
Tebal : xviii + 201 halaman
ISBN : 978-979-91-0538-7

“... anehnya kesadaran. Ketika kita menjalani hidup sebetulnya semua mengalir begitu saja. Tapi ketika ditanya, kita seperti dipaksa untuk menyadari dan merumuskan. Lantas, sesuatu yang semula terasa wajar menjelma sikap politik.” – halaman xviii.

Pertama, KPG mengategorikan buku ini sebagai novel, dan mohon maaf saya tidak setuju. Saya pribadi lebih beranggapan kalau buku ini merupakan antologi esai. Kedua, mari kita bahas buku ini secara ringkas tapi pelan-pelan.

January 23, 2016

[Book Review] A Game of Thrones

Politik Perebutan Tahta

Sumber: fantasiousid.com

Judul : A Game of Thrones
Penulis : George R. R. Martin
Penerjemah : Barokah Ruziati
Penerbit : Fantasious
Cetakan : kedua, Mei 2015
Tebal : XVI + 948 halaman
ISBN : 978-602-0900-29-2

Lega. Tapi juga kehabisan kata-kata secara bersamaan.

Selesai membaca novel setebal 900 halaman lebih ini, saya hanya bisa terbengong-bengong. Senang karena akhirnya saya berhasil melahap cerita di dalamnya –meski memakan waktu berhari-hari lamanya. Namun, juga tak percaya dengan akhir ceritanya. “Uwis? Ngene iki? Sumpah?” begitu batin saya sesaat setelah tercengang.

Duh, dari mana saya harus memulai, ya? Yang pasti, GoT memiliki konflik yang rumit –dan entah mengapa sedari dulu saya memang mencintai cerita dengan konflik rumit dan bertumpuk-tumpuk. Lebih lanjut, karena konflik yang berlapis-lapis itu juga, jalan ceritanya menjadi tidak mudah tertebak.

January 10, 2016

[Book Review] Entrok

Sumber: Goodreads

Judul : Entrok
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : kedua, Maret 2015
Tebal : 282 halaman
ISBN : 978-979-22-5589-8

“Tak pernah ada cita-cita lain yang diturunkan orangtuaku selain bisa makan hari ini. Tapi aku menyimpan harapan dan mimpi. Setidaknya untuk entrok. Cukup dengan harapan itu saja aku bisa melakukan apa saja. Dari buruh pengupas singkong menjadi kuli. Dan sekarang terseok-seok... mampir ke setiap rumah, menawarkan belanjaan yang hanya sedikit.” – halaman 45.

Salah satu yang paling mengena dari novel ini, bagi saya, adalah pesannya yang mana menegaskan bahwa orang hidup harus memiliki mimpi dan harapan. Tanpa keduanya, kita hanyalah seonggok daging yang “mati”, yang tak tahu dan tak memiliki arah. Dan yang paling parah, membuat orang lain, yang menganggap dirinya berkuasa, mampu untuk “menyetir” kita.

[Book Review] Negeri van Oranje


Badai, Keretek, dan Takdir



Judul : Negeri van Oranje
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : cetakan keenam, September 2015
Tebal : viii + 576 halaman
ISBN : 978-602-291-036-7

Seperti judul tulisan yang kali ini saya pakai, persahabatan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri berawal dari adanya badai yang kemudian disusul dengan berbagi keretek. Dan tentu saja, takdir yang sudah semesta amini.

Berada di negara perantauan, Belanda, membuat kelimanya memiliki ikatan yang erat antarsatu sama lain. Bersama, mereka berbagi cerita, pengalaman, dan cara untuk bertahan hidup di Belanda. Dan meski pertengkaran-pertengkaran kecil kerap terjadi, namun rasa saling memiliki dan peduli terhadap satu sama lain membuat persahabatan mereka tetap solid.