March 20, 2016

bacasaja, Sebuah Proyek Baru

Saya setuju bahwasanya tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu, apapun itu.

Perkenalkan, proyek terbaru saya –bersama dua orang teman– yang diberi nama bacasaja.
Akhirnya, keinginan yang sudah dipendam selama dua tahun lamanya terwujud juga. Meski “formatnya” bukan personal, tapi saya pikir tidak masalah. Toh,kami bertiga memiliki keinginan yang lebih kurang sama.

Dari saya pribadi, keinginan memiliki jurnal daring yang berkonten soal buku didasari atas kesukaan saya membaca buku fiksi. Saya pikir, rugi rasanya kalau cuma membaca. Tak ada manfaat lebihnya. “Piye nek misal aku gawe website sik isine review buku?” begitu pikir saya waktu itu. Setidaknya, dengan meresensi buku, itu bisa jadi sebuah nilai lebih. Untuk menjadi “panduan” dalam membeli buku, misalnya.

March 6, 2016

Balas Dendam dalam Diam

Sumber: lovethispic.com

“Kira-kira, apa alasan seseorang tak menjawab pesanmu?”

“Mmm... sibuk.”

“Kau yakin? Bagaimana jika ia mendiamkanmu?”

“Oh, aku tak tahu.”

March 5, 2016

[Book Review] Cinta Tak Kenal Batas Waktu


Judul : Cinta Tak Kenal Batas Waktu
Penulis : Wulan Murti
Penerbit : Senja
Terbit : 2016
Tebal : 212 halaman
ISBN : 978-602-391-091-5

“... mengapa aku selalu menapaki tilas? Untungnya apa aku mengulang kenangan sendirian? Untuk apa semua ini? apa arti tapak tilasku?” – halaman 61.

Candra adalah seorang gadis yang ditinggalkan oleh kekasihnya. Bukan ditinggal karena diduakan, melainkan karena kematian. Meski sudah setahun berlalu, namun Candra belum bisa sepenuhnya menerima kepergian Fabian. Itu sebabnya, ia masih sering pergi ke Bandung, untuk mengunjungi makam Fabian dan menapak tilasi setiap tempat yang penuh kenangan antara ia dan kekasihnya. Bagaimana pun, ia masih merasa bahwa Fabian masih ada di sampingnya.

[Book Review] Kasta, Kita, Kata-kata

Seorang Gadis yang Berteman dengan Ketidaknormalan



Judul : Kasta, Kita, Kata-kata
Penulis : Ardila Chaka
Penerbit : PING
Terbit : 2016
Tebal : 188 halaman
ISBN : 978-602-296-183-3

Adanya kesamaan rima, membuat judul novel ini terdengar menarik. Begitu pula dengan konsep ceritanya –yang sebetulnya sederhana. Kasta, Kita, Kata-kata berkisah tentang sepasang teman yang saling melengkapi. Ajeng dengan kekurangannya dan Galih dengan kepeduliannya.

Awalnya, Ajeng adalah seorang anak yang normal. Bertangan dan berkaki dua, berbedan tegap, dapat melihat, mendengar, dan merasakan. Namun, sewaktu ia berumur sekitar 3-4 tahun, ia mengalami demam tinggi yang kemudian membuatnya sulit untuk bicara. Saat itu, orangtuanya tak mampu membawanya ke dokter. Jadilah ia dibawa ke dukun, kata sang dukun Ajeng kena tulah.