May 3, 2017

Penunaian Janji Awal Tahun

Kali ini, saya akan sedikit melanjutkan tulisan terakhir yang saya unggah di Jurnal Merah ini pada awal Januari lalu. Dalam catatan kaki yang ada dalam tulisan tersebut, saya menuliskan kalau saya harus segera membuat pengakuan kepada seseorang. Seorang teman baik. Seorang teman dekat. Entah, apakah untuk saat ini (ketika tulisan ini terunggah) dia masih menganggapnya begitu, tapi kalau saya, sih, iya. Terlepas dari apa yang baru saja terjadi –wah, ini panjang kalau harus diceritakan– bagaimanapun, dia masih teman baik saya –kamu masih teman baik saya.

Dan, syukurlah, pada bulan itu juga, pengakuan –yang rencananya akan saya utarakan pada Maret atau April– itu tertunaikan sudah. Dengan segenap keberanian yang disertai dengan ketidakstabilan emosi –sehingga saya sempat menangis tersedu-sedu dan ironisnya tidak malu– malam itu semua keluh kesah saya tumpah ruah. Kepadanya saya bercerita bahwa saya sempat marah, saya sempat patah, dan saya sempat tak terima. Saya menyalahkan diri saya tapi, tentu, juga dirinya atas apa yang terjadi –syukurnya, dia juga mengakui jika dirinya salah.