January 28, 2016

[Book Review] Nyanyian Akar Rumput

Sumber: Goodreads

Judul : Nyanyian Akar Rumput
Penulis : Wiji Thukul
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : kedua, Maret 2015
Tebal : 248 halaman
ISBN : 978-602-03-0289-8

Jujur saya bingung harus menuliskan apa untuk membahas buku ini. Tiba-tiba apa yang ada dipikiran saya sebelumnya hilang dan tak menyisakan ampas. Hmmm... mungkin ini pertanda bahwa saya harus menuliskan kesan terhadap buku ini secara ringkas saja.

Ah, baiklah! Pertama, yang jelas, buku ini merupakan antologi puisi. Ratusan puisi di dalamnya terbagi ke dalam tujuh bagian. Secara keseluruhan, puisi-puisi yang ditulis oleh Wiji Thukul di sini memiliki keberpihakan pada masyarakat akar rumput. Hal ini, bagi saya, wajar saja sebab sang penyair sendiri berasal dari keluarga dengan “kelas” tersebut. Dan semakin wajar mengingat bahwa dirinya adalah salah satu aktivis HAM.

Kalau boleh saya bilang, beberapa puisi di dalamnya penuh dengan nada “provokatif”. Namun, hal itu bukan tanpa dasar. Maksud saya, puisi tersebut benar-benar dibuat berdasar kondisi sosial yang terjadi saat itu. Yang menarik bagi saya, selalu ada kritik, baik secara tersurat maupun tidak, pada setiap puisinya.

Tentu ada beberapa puisi yang saya favoritkan. Salah duanya ialah yang berjudul “Tanah” –belakangan baru saya sadari bahwa di Indonesia banyak sekali konflik-konflik terkait agraria, dan puisi ini berhasil menyentil kesadaran saya– serta “Teka-teki yang Ganjil”.

Lalu, yang kedua, secara teknis, saya sangat menyukai desain sampulnya. Dalam Bahasa Indonesia, wiji thukul itu sendiri berarti biji yang tumbuh. Dan desain gambar yang tertera pada kover buat saya sangat menarik. Begitu pula dengan pemilihan warnanya yang mencolok, tapi tidak menyakitkan mata. Secara sekilas memang terlihat sederhana. Dan bukankah sosok Wiji Thukul itu sendiri memang sederhana?

Sayangnya, saya agak menyayangkan beberapa tata letak pada halaman dalam, yang spasi antarbarisnya dibuat tidak sama dengan kebanyakan halaman lain. Seperti puisi “Pasar Malam” pada halaman 128, misalnya. Di situ terlihat spasi antarbarisnya lebih rapat. Bukan masalah besar, sih, sebetulnya. Saya juga paham, mungkin maksudnya untuk “menghemat halaman” dan biar lebih rapi. Namun, rasanya di mata, kok, tidak enak. Seperti ada yang njomplang.


Akhir kata, puisi mana yang kamu suka?

No comments:

Post a Comment