January 23, 2016

[Book Review] A Game of Thrones

Politik Perebutan Tahta

Sumber: fantasiousid.com

Judul : A Game of Thrones
Penulis : George R. R. Martin
Penerjemah : Barokah Ruziati
Penerbit : Fantasious
Cetakan : kedua, Mei 2015
Tebal : XVI + 948 halaman
ISBN : 978-602-0900-29-2

Lega. Tapi juga kehabisan kata-kata secara bersamaan.

Selesai membaca novel setebal 900 halaman lebih ini, saya hanya bisa terbengong-bengong. Senang karena akhirnya saya berhasil melahap cerita di dalamnya –meski memakan waktu berhari-hari lamanya. Namun, juga tak percaya dengan akhir ceritanya. “Uwis? Ngene iki? Sumpah?” begitu batin saya sesaat setelah tercengang.

Duh, dari mana saya harus memulai, ya? Yang pasti, GoT memiliki konflik yang rumit –dan entah mengapa sedari dulu saya memang mencintai cerita dengan konflik rumit dan bertumpuk-tumpuk. Lebih lanjut, karena konflik yang berlapis-lapis itu juga, jalan ceritanya menjadi tidak mudah tertebak.

Dari segi alur, novel penuh misteri dan beraura gelap ini memiliki plot progresif. Jalan ceritanya ditulis dengan sudut pandang orang ketiga melalui sudut pandang beberapa tokoh yang memiliki peran yang cukup “vokal” –Ned, Robbert, Jon, Arya, Sansa, Catelyn, Tyrion, Dany (apakah ada yang belum saya sebutkan atau salah, mungkin?)

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai novel ini –lebih tepatnya, menyukai jenis cerita perang kolosal seperti ini. Emosi yang dibangun oleh sang penulis, setidaknya bagi saya, sukses menggoncang emosi pembaca. Saya sendiri “terguncang” di bagian di mana Arya melihat sang ayah dijagal, dan saat kabar kematian Ned sampai ke Brann dan Rickon.

Untuk tokoh sendiri, novel ini memiliki banyak pemain dengan karakter beragam. Di antaranya adalah Arya, yang menurut saya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Kemudian, Sansa yang terlalu lugu dan “bodoh” –ya, terkadang keluguan dan kebodohan berbeda tipis. Lalu, Ned yang jujur dan bijak –dibanding yang lain. Selanjutnya, adapula tokoh-tokoh yang sangat menyebalkan, seperti Cersei yang serakah, Joff yang angkuh, dan Littlefinger yang licik.

Dan dari semua tokoh, baik yang saya sebutkan di atas maupun tidak, yang paling saya sukai adalah Arya. Karakter yang dimilikinya terbilang kuat dan cukup menonjol.



Ah, ya! Hampir lupa. Sisi menarik lain dari novel ini menurut saya dapat ditemui pada lelucon sarkasnya. Dan meski terkadang digambarkan dengan watak yang menyebalkan, kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Tyrion tak jarang quote-able.

Lepas dari itu, di segi teknis, saya menyukai desain sampulnya. Warna merah sendiri merepresentasikan isi ceritanya yang “berdarah-darah”. Kemudian, untuk desain gambarnya warna putih pada hurufnya menggambarkan Klan Stark yang mana merupakah klan dengan porsi peran terbanyak dalam cerita.

Lebih lanjut, tata letaknya sendiri terbilang sederhana, tapi rapi. Lalu, jenis kertas yang digunakan untuk kovernya, menurut saya, memiliki poin plus tersendiri. Sebab, tidak banyak novel di pasaran yang menggunakan jenis kertas serupa.

Sayangnya, saya agak terganggu dengan kesalahan penulisan yang sering saya jumpai. Misalnya, pada halaman 594, di mana binatang tertulis menjadi bintang (kurang huruf a di tengah). Lalu, ada juga beberapa kalimat dialog yang tidak disertai dengan tanda petik buka. Hal seperti ini memang terkesan sepele, tapi bagi saya cukup mengganggu.

Selebihnya, saya tidak merasa ada yang salah. Hanya mungkin, beberapa halaman yang margin-nya terlalu ke bawah. Namun, saya pikir itu bukan kesalahan pada saat layouting, melainkan percetakan.

Terakhir sebelum tulisan ini saya tutup. Satu hal yang masih mengganjal bagi saya, yakni nasib Arya yang, bagi saya, masih abu-abu. Ah, sepertinya saya harus segera membeli seri selanjutnya. Agar tahu bagaimana cerita benar-benar berakhir.


Akhir kata, selamat melahap cerita di dalamnya!

No comments:

Post a Comment