January 27, 2016

[Book Review] Si Parasit Lajang

Sumber: Goodreads

Judul : Si Parasit Lajang
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : ketiga, Februari 2015
Tebal : xviii + 201 halaman
ISBN : 978-979-91-0538-7

“... anehnya kesadaran. Ketika kita menjalani hidup sebetulnya semua mengalir begitu saja. Tapi ketika ditanya, kita seperti dipaksa untuk menyadari dan merumuskan. Lantas, sesuatu yang semula terasa wajar menjelma sikap politik.” – halaman xviii.

Pertama, KPG mengategorikan buku ini sebagai novel, dan mohon maaf saya tidak setuju. Saya pribadi lebih beranggapan kalau buku ini merupakan antologi esai. Kedua, mari kita bahas buku ini secara ringkas tapi pelan-pelan.

Nah, seperti tulisannya yang sudah-sudah saya baca, dalam hal ini novel Saman dan Larung, di buku ini Ayu sama sekali tidak menghilangkan ciri khasnya. Tulisannya tetap tegas dan mengalir. Selain itu, tulisan-tulisan di dalamnya terasa jujur serta memiliki diksi yang mudah dipahami. Dan saya pikir hal-hal tersebut merupakan poin plus bagi buku ini.

Lepas dari itu, seperti kalimat kutipan yang saya tuliskan di awal, saya merasa bahwa buku ini disusun dengan tujuan yang mulia, yakni memberikan perspekif baru. Tulisan-tulisan di dalamnya mengajak pembaca untuk membuka kesadaran akan konstruksi sosial yang ada di tatanan masyarakat kita. Bahkan, pada beberapa bagian, sang penulis terang-terangan untuk mengubah nilai-nilai sosial dengan nilai-nilainya sendiri.

Menariknya, meski yang dibahas, sepintas terasa berat –tentang hierarki, budaya patriarki, seksualitas, dan banyak lainnnya– namun, Ayu mengemas tulisan di dalamnya dengan bahasa yang ringan. Sehingga, seolah-olah, kesan bahwa buku ini memiliki bahasan berat dan serius hilang. Upaya pengemasan agar kesan “berat” itu tadi hilang juga dapat kita lihat dengan adanya sketsa-sketsa kecil yang ada dalam buku ini. Overall, buat saya buku ini memberikan cukup banyak insight baru.

Beralih ke segi teknis, pertama, buat saya tidak ada masalah pada tata letak halaman dalamnya. Kemudian, untuk desain kovernya. Hmmm... saya suka. Tapi, dalam konteks kover, saya merasa gambarnya terkesan penuh dan tidak menyisakan ruang untuk “bernafas”. Selebihnya, buat saya baik-baik saja.

Akhir kata, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment