January 10, 2016

[Book Review] Entrok

Sumber: Goodreads

Judul : Entrok
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : kedua, Maret 2015
Tebal : 282 halaman
ISBN : 978-979-22-5589-8

“Tak pernah ada cita-cita lain yang diturunkan orangtuaku selain bisa makan hari ini. Tapi aku menyimpan harapan dan mimpi. Setidaknya untuk entrok. Cukup dengan harapan itu saja aku bisa melakukan apa saja. Dari buruh pengupas singkong menjadi kuli. Dan sekarang terseok-seok... mampir ke setiap rumah, menawarkan belanjaan yang hanya sedikit.” – halaman 45.

Salah satu yang paling mengena dari novel ini, bagi saya, adalah pesannya yang mana menegaskan bahwa orang hidup harus memiliki mimpi dan harapan. Tanpa keduanya, kita hanyalah seonggok daging yang “mati”, yang tak tahu dan tak memiliki arah. Dan yang paling parah, membuat orang lain, yang menganggap dirinya berkuasa, mampu untuk “menyetir” kita.

Namun, mimpi saja, pada dasarnya, tidaklah cukup. Harus ada kemauan dari dalam diri untuk menggapainya. Dan pada konteks cerita ini, hal tersebut tergambarkan pada lika-liku kehidupan Marni.

Saya rasa, tak perlulah saya berpanjang lebar untuk menuliskan secuil kisah di dalamnya. Sebab, sudah terlalu banyak orang lain yang menuliskannya. Intinya, novel ini tidak bercerita mengenai pakaian dalam perempuan –seperti yang tergambar pada kover. Tidak juga bercerita mengenai perempuan itu sendiri –meski perempuan di sini dijadikan tokoh utama dan “kacamata” dalam penuturan penceritaan. Melainkan, novel ini lebih tepat untuk dikatakan sebagai novel yang berkisah tentang menipisnya toleransi dan menebalnya kesewenangan.

Nah, hingga tulisan ini saya unggah, sebetulnya saya masih bertanya-tanya, mengapa novel ini diberi judul entrok? Apakah karena entrok merupakan “titik awal” bagaimana Marni melakoni hidup dan mewujudkan mimpi-mimpinya? Atau karena entrok merupakan simbolisasi perempuan –mengingat bahwa entrok dalam Bahasa Indonesia adalah bra, dan tokoh utama dalam novel ini sendiri adalah perempuan. Ataukah ada filosofi lain dari penggunaan entrok sebagai judul di sini?

Lepas dari itu, novel ini ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama melalui kacamata Marni dan Rahayu. Marni sendiri digambar sebagai seorang perempuan yang ulet dan penuh tekad. Sementara itu, si Rahayu –anak Marni, adalah perempuan, yang kalau saya bilang, “kehilangan arah”, sangat berbeda dibandingkan Marni. Namun, satu hal yang sama dari mereka adalah sekuat apapun keduanya digambarkan, pada akhirnya mereka tetap kalah saat dihadapkan dengan laki-laki, dalam novel ini adalah penguasa, baik perangkat desa hingga jajaran tertinggi maupun tentara.

Lucunya, meski begitu, tokoh perempuan pada novel ini digambarkan dengan lebih superior dibanding laki-laki. Dan para tokoh laki-laki itu sendiri digambarkan dengan watak yang suka bermalas-malasan, hanya suka berfoya-foya, tak mau susah, dan bermental kuli –seperti Teja misalnya.

Secara keseluruhan, saya menikmati cerita yang ditulis oleh Okky Madasari ini. Semua elemen di dalamnya tereksplorasi dengan baik. Penceritaan dua generasi di sini dituliskan dengan diksi yang mudah dipahami, sama sekali tidak rumit, dan sangat mengalir.

Tak hanya itu, novel ini memiliki nilai lebih –setidaknya bagi saya, karena mampu memasukkan kondisi sosial dan politik secara umum yang terjadi pada masa Orde Baru secara riil. Bagi saya, suasana yang dibangun dalam novel ini terasa hidup, sehingga emosi pembaca –lagi-lagi setidaknya saya, ikut teraduk-aduk. Saya pikir, riset yang dilakukan oleh Okky untuk menulis novel ini patut untuk diacungi jempol.

Namun, ada satu hal yang mengganggu saya, yakni kesalahan penulisan. Misalnya saja pada halaman 16 paragraf kedua, di mana membuat tertulis menjadi membut (tanpa a). Selain itu, untuk segi teknis lainnya, saya pikir tidak ada yang bermasalah. Untuk kover sendiri, saya pribadi cukup menyukainya karena tone yang digunakan “lembut”, namun tetap mampu “mencolok” perhatian orang. Kemudian, untuk tata letaknya, baik kover depan maupun belakang, buat saya sangat rapi. Hanya saja, saya kurang menyukai warna latar kover belakang yang dan penggunaan warna huruf yang, membuat mata saya, “kelelahan”.


Akhir kata, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment