January 10, 2016

[Book Review] Negeri van Oranje


Badai, Keretek, dan Takdir



Judul : Negeri van Oranje
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : cetakan keenam, September 2015
Tebal : viii + 576 halaman
ISBN : 978-602-291-036-7

Seperti judul tulisan yang kali ini saya pakai, persahabatan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri berawal dari adanya badai yang kemudian disusul dengan berbagi keretek. Dan tentu saja, takdir yang sudah semesta amini.

Berada di negara perantauan, Belanda, membuat kelimanya memiliki ikatan yang erat antarsatu sama lain. Bersama, mereka berbagi cerita, pengalaman, dan cara untuk bertahan hidup di Belanda. Dan meski pertengkaran-pertengkaran kecil kerap terjadi, namun rasa saling memiliki dan peduli terhadap satu sama lain membuat persahabatan mereka tetap solid.

Lebih lanjut, novel ini tidak hanya berkisah tentang persahabatan, melainkan juga soal rasa nasionalis. Sebagai pelajar yang mendapatkan beasiswa di luar negeri, mereka kerap dihadapkan pada pertanyaan, “Haruskah setelah lulus nanti bekerja di sini (negara tempatnya berada) ataukah pulang untuk membangun Indonesia?”

Kebimbangan tentu saja memenuhi pikiran mereka. Harus diakui bahwa pertanyaan sederhana tersebut tak dapat dijawab dengan cara yang sederhana pula. Sebab, banyak pertimbangan yang mesti mereka perhitungkan matang-matang.

Lepas dari hal di atas, untuk penokohan sendiri, Lintang digambarkan sebagai seorang perempuan riang, bergaya sporty, dan cenderung cuek. Kemudian, Wicak digambarkan memiliki perawakan yang berkulit sawo matang, tinggi, kurus dengan rambut sedikit kriwil. Lalu, ada si Iskandar atau yang lebih akrab disapa Banjar, anak juragan bawang yang selalu merasa dirinya ganteng. Adapula, Daus, keturunan Betawi asli, yang sangat menyukai dunia hukum. Dan terakhir, yang paling ganteng di antara keempat laki-laki tersebut adalah Geri –si baik, bijak, dan rendah hati.

Nah, secara keseluruhan novel beralurkan maju-mundur dan ditulis melalui sudut pandang orang ketiga ini terbilang menyenangkan untuk dibaca. Para penulis juga mampu memberikan kesan hidup pada novel ini karena deskripsinya yang detail. Tak hanya itu, cerita yang ditulis di dalamnya juga terbilang inspiratif. Secara “terselubung” kita diajak untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Perihal ekonomi yang cekak bukanlah alasan, sebab banyak beasiswa yang bisa diandalkan. Hanya dua poin utamanya, kemauan dan usaha.

Kemudian, meski cerita yang disuguhkan, kalau dipikir-pikir, cukup klasik –karena (lagi-lagi) mempertemukan “unsur” persahabatan dengan cinta, namun banyak hal baru yang dapat kita ambil dari novel ini. Misalnya saja cara bertahan hidup di Belanda, cara mencari pekerjaan paruh waktu, cara mencari tempat tinggal, dan masih banyak lagi.

Akan tetapi, di atas segala puja-puji di atas, ada satu hal yang saya sayangkan, yakni adanya dialog yang “dibatin” yang tidak ditulis dengan huruf bercetak miring. Misalnya pada bagian chapter prolog di mana pernyataan batin Banjar pada baris kedua, “Duh, kenapa SMS ini mesti lo kirim sekarang...” tidak ditulis miring.

Buat saya, penggalan kalimat tersebut perlu untuk dicetak miring agar tidak rancu dengan narasinya, sehingga pembaca pun tidak kebingungan. Sebab, aneh saja, kesannya justru seperti ada pada pergantian sudut pandang, yang semula menggunakan sudut pandang orang ketiga, tiba-tiba menjadi POV-1.

Lalu, secara teknis, ini bukan hal yang besar sih, tapi saya kurang (bukan tidak, tapi kurang) menyukai buku yang menggunakan kertas buram. Buat saya, penggunaan kertas buram berpengaruh pada tingkat kenyaman membaca, yang kemudian jadi agak “menjemukan”. Selain itu, kertas buram sendiri dasarnya lebih rawan robek.

Sementara itu, untuk desain kovernya sendiri –pada edisi kover film, buat saya cukup menarik. Tetapi, saya lebih menyukai desain kover yang sebelumnya, yang bergambar kincir angin Belnda dengan warna latar oranye. Dibandingkan dengan gambar kover yang sebelumnya, kover yang terbaru ini terbilang ramai. Namun, perlu diakui bahwa desain kover terbarunya ini terbilang cukup mengundang pembaca untuk membeli novel ini.


Akhir kata, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment