May 3, 2017

Penunaian Janji Awal Tahun

Kali ini, saya akan sedikit melanjutkan tulisan terakhir yang saya unggah di Jurnal Merah ini pada awal Januari lalu. Dalam catatan kaki yang ada dalam tulisan tersebut, saya menuliskan kalau saya harus segera membuat pengakuan kepada seseorang. Seorang teman baik. Seorang teman dekat. Entah, apakah untuk saat ini (ketika tulisan ini terunggah) dia masih menganggapnya begitu, tapi kalau saya, sih, iya. Terlepas dari apa yang baru saja terjadi –wah, ini panjang kalau harus diceritakan– bagaimanapun, dia masih teman baik saya –kamu masih teman baik saya.

Dan, syukurlah, pada bulan itu juga, pengakuan –yang rencananya akan saya utarakan pada Maret atau April– itu tertunaikan sudah. Dengan segenap keberanian yang disertai dengan ketidakstabilan emosi –sehingga saya sempat menangis tersedu-sedu dan ironisnya tidak malu– malam itu semua keluh kesah saya tumpah ruah. Kepadanya saya bercerita bahwa saya sempat marah, saya sempat patah, dan saya sempat tak terima. Saya menyalahkan diri saya tapi, tentu, juga dirinya atas apa yang terjadi –syukurnya, dia juga mengakui jika dirinya salah.

March 16, 2017

Kekosongan di antara kita

Sumber: Pinterest

Begini saja, biar kuceritakan kegundahanku pelan-pelan agar kau mengerti.

Pertama, aku tak memintamu, tak pernah memintamu, untuk memberi kabar padaku setiap hari. Seminggu sekali pun cukup, asal kamu sehat, bahagia, dan baik-baik saja. Aku juga tak menuntutmu untuk selalu menemuiku setiap hari. Dua minggu sekali pun, kupikir cukup, karena toh bukankah kau dan aku memiliki kesibukan sendiri-sendiri yang mana sangat berbeda? Lebih dari itu, bukankah kau dan aku tetap butuh jarak dan waktu untuk saling menata hati dan pikiran masing-masing?

January 3, 2017

Pengakuan Dosa 2016: Tahun Bermain Api

Sumber: pinterest

2016 penuh dengan hal-hal yang tak terduga, mulai dari yang paling membahagiakan, menyedihkan, mengesalkan, menakutkan, hingga menjijikan. Semuanya tumpah ruah. Sampai-sampai, terkadang saya hampir merasa tak kuasa untuk menanggung segala jenis emosi yang menghampiri. Akibatnya, dalam beberapa hal saya pun menjadi lebih emosional. Berteriak kegirangan. Menangis tersedu-sedu. Marah kepada pihak-pihak yang tidak bersalah. Trauma terhadap beberapa hal. Dan masih banyak lainnya.

Lepas dari itu, seperti yang tertulis pada judul, tahun ini saya banyak bermain api. Bahkan tak jarang, justru sayalah yang menjadi apinya. Di awal, nyalanya redup saja. Kecil. Namun, lama-lama nyalanya makin membesar. Kemudian membakar. Bahkan, sempat menghanguskan diri saya sendiri beberapa kali. Sakit, tentu saja.