February 17, 2016

Sudah Saatnya Melepas

“Kok, kamu malah senang?”

“Jelas. Gimana bisa kamu sedih ketika melihat temanmu akhirnya lulus kuliah?”

“Lulus...berarti kan dia masuk ke jenjang hidup yang berikutnya....”

“Ah, aku paham maksudmu. Dia lulus, dan aku masih begini dan di sini, begitu? Akan semakin jarang bertemu, begitu? Bukannya sebelumnya kami juga jarang bertemu, hanya pada kesempatan-kesempatan tertentu saja? Tentu hal itu bukan suatu masalah buatku.”

February 8, 2016

[Book Review] Norwegian Wood

Kisah-kisah dalam Ingatan Watanabe

Sumber: Goodreads

Judul : Norwegian Wood
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : kelima, Februari 2015
Tebal : iv + 423 halaman
ISBN : 978-979-91-0835-7

“Memikirkan hal itu aku merasa nelangsa, karena Naoko tidak mencintaiku samasekali.” – halaman 12.

Sebagai awalan, saya harus membuat pengakuan terlebih dahulu. Jujur, saya merasa berat untuk membaca novel ini –padahal sebelumnya sudah diwanti-wanti oleh seorang teman mengenai ciri khas tulisan Murakami. Bukan karena isinya ataupun pilihan diksinya, melainkan alurnya yang berjalan lambat dan terkadang terlampau datar.

Sebagai seseorang yang tidak menyukai tempo yang pelan, saya merasa agak tersiksa saat membacanya. Namun, saya tidak sampai hati untuk tidak menyelesaikan novel ini. Sebab, saya juga ingin tahu bagaimana cerita berakhir. Singkat kata, butuh waktu hampir empat bulan bagi saya untuk menuntaskan novel ini.

February 2, 2016

[Book Review] Reruntuhan Musim Dingin

Sumber: Goodreads

Judul : Rerentuhan Musim Dingin
Penulis : Sungging Raga
Penerbit : Diva Press
Terbit : Januari 2016
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-391-079-3

Reruntuhan Musim Dingin merupakan antologi cerpen. Di dalamnya terdapat 22 buah cerpen yang beberapa di antaranya pernah dimuat dalam surat kabar dan tabloid. Dalam menuliskan cerpen-cerpennya, sang penulis di sini menggunakan diksi yang sederhana. Namun, kesan indah dalam tulisannya tetap ada.

Menurut saya pribadi, aspek yang dijual pada sebagian besar cerpen di dalamnya lebih ke jalan cerita, bukan akhir cerita. Untuk tema sendiri, mayoritas kisah-kisahnya berbicara mengenai cinta dan perpisahan. Menariknya, meski bertema mainstream, kisah-kisah tersebut tidak terkesan picisan. Meski begitu, harus saya akui bahwa kesamaan tema cerita pada cerpen-cerpen Sungging Raga dalam buku ini membuat saya agak bosan.

[Book Review] Interval


Judul : Interval
Penulis : Diasya Kurnia
Penerbit : PING
Terbit : 2016
Tebal : 176 halaman
ISBN : 978-602-391-059-5

“... aku harus berjuang menunjukkan pada mereka kalau tidak semua penari jathil negatif ... kalau semua orang berpikir seperti itu, jathil akan segera lenyap karena tak diminati generasi penerus. Seperti pula kata hatiku, siapa tahu aku bisa menjadi penari profesional ... bukan hanya dari kampung ke kampung. Menjadi terkenal, hingga membuat orangtuaku kembali.” – halaman 16.

Awalnya, saya pikir novel ini berkisah tentang seorang anak yang bercita-cita menjadi penari profesional di tingkat internasional. Namun, dugaan saya rupanya agak meleset. Sebab, Kinanti berharap dengan menjadi penari internasional ia berharap dapat dimudahkan dalam menemukan orangtuanya.

[Book review] Fesyenisheeza


Judul : Fesyenisheeza
Penulis : Nita Lana Faera
Penerbit : Ping
Terbit : 2016
Tebal : 188 halaman
ISBN : 978-602-391-060-1

Novel ini berkisah tentang seorang gadis bernama Sheeza yang bercita-cita menjadi desainer. Meski baru berusia 14 tahun, namun siapa sangka jika kebaya hasil rancangannya dikagumi oleh banyak orang. Salah satunya adalah Bu Lidya, wali kelasnya di sekolah. Semenjak itu, Sheeza pun kebanjiran permintaan untuk membuatkan desain pakaian.

Namun, hidup tak selalu berjalan mulus, bukan? Di tengah kesuksesannya, ada beberapa orang yang ingin menjatuhkannya. Berulang-kali Bianca bersama teman-teman segerombolannya melakukan hal buruk kepada sheeza. Tetapi, seperti peribahasa “sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, pada akhirnya apa yang dilakukan Bianca dan gengnya pun ketahuan.

February 1, 2016

[Book Review] Pengakuan Eks Parasit Lajang

Sumber: Goodreads

Judul                : Pengakuan Eks Parasit Lajang
Penulis              : Ayu Utami
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : ketiga, Februari 2015
Tebal               : x + 306 halaman
ISBN                : 978-9779-91-0537-0

Pada akhirnya, ada dua poin utama yang saya dapatkan dari trilogi Parasit Lajang ini, yakni kesetaraan dan kebebasan untuk memilih, apapun itu. Jika, beberapa orang di luar sana menganggap bahwa Ayu terkesan menggurui, saya idak merasa demikian. Penulis di sini hanya mencoba untuk mengungkapkan pemikirannya sekaligus memberikan alternatif. Memang dibutuhkan pemikiran yang terbuka dalam membaca trilogi ini.

Lepas dari itu, poin plus dari buku ini adalah kesan intim yang didapat oleh para pembaca. Ini dapat kita lihat dari penggunaan sudut pandang orang pertama oleh sang penulis. Soal bagaimana gaya penulisan, ah, menurut saya itu tak perlu lagi untuk dibahas. Semua orang yang sudah membaca tulisan Ayu pasti tahu jika tulisannya selalu tegas, tidak bertele-tele, dst, dst.

[Book Review] Cerita Cinta Enrico

Sumber: Goodreads

Judul : Cerita Cinta Enrico
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : kedua, Mei 2012
Tebal : vii + 244 halaman
ISBN : 978-979-91-0413-7

Sebelumnya, saya mau bilang kalau Cerita Cinta Enrico –selanjutnya akan saya tulis menjadi CCE– adalah kisah yang paling saya favoritkan di antara trilogi Parasit Lajang. Jika, dua serial yang lain lebih merupakan otobiografi seksualitas dan spiritualitas sang penulis sendiri, tidak dengan yang satu ini –meski unsur seksualitas dan spiritualitas, tentunya, tetap ada.

CCE ditulis dengan sudut pandang orang pertama, melalui “kacamata” seorang lelaki bernama Enrico –yang mana adalah kekasih A. Yang menarik di sini adalah pendekatan yang digunakan Ayu. Seperti kata Butet Kartaredjasa, Ayu berani menelanjangi kisah lelaki tersebut hingga ke akarnya. Tentu hal tersebut menjadi poin plus tersendiri, sebab tak banyak orang yang berani mengisahkan hal yang sangat intim begini. Dan, tak semua orang yang berani mengisahkan juga dapat menulis sebaik Ayu.

Kita sama-sama tahu

Sumber: Tumblr

Sore lalu, kita kembali bertemu
kali ini, pertemuan itu telah kita rencanakan terlebih dahulu
berbeda dengan keseringan pertemuan kita yang lalu-lalu
yang penuh akan kebetulan dan keramaian
karena bukan hanya kita –berdua, yang berada di dalamnya
namun juga teman-temanmu, yang mana juga teman-temanku.

Pertemuan yang lalu terasa lebih syahdu
hanya aku dan kamu, duduk bersisian, menatap keramaian
sembari melontarkan percakapan tentang masa depan
tentang pendidikan, tentang pekerjaan.

Tapi, kita lupa membahas soal “ikatan”
ah, tepatnya melupakan.

Karena bagimu dan juga bagiku,
sama-sama tahu itu sudah cukup, bukan begitu?