September 25, 2015

[Book Review] Rentak Kuda Manggani

Sumber: Goodreads

Judul : Rentak Kuda Manggani
Penulis : Zelfeni Wimra dkk.
Penerbit : Diva Press
Terbit : Agustus, 2015
Jumlah halaman : 176 halaman
ISBN : 978-602-255-954-2

Buku berjudul “Rentak Kuda Manggani” ini merupakan sebuah antologi cerpen. Di dalamnya terdapat duapuluh satu cerita pendek yang ditulis oleh penulis yang berbeda-beda. Duapuluh satu cerita untuk buku setebal 176 halaman? Iya, awalnya saya juga kaget. Buku setipis itu ternyata menampung sekian banyak cerpen di dalamnya.

Nah, mengenai temanya sendiri –yang mana menjadi persamaan utama dari setiap cerpen yang ada, adalah “Bangun Cinta”. Tentu saja cinta yang dimaksud di sini adalah dalam arti luas dan melulu tentang sepasang kekasih, misalnya saja cinta pada kedamaian (pada cerpen yang berjudul “Stille Nacht”) dan cinta pada daerah kita sendiri (seperti yang disuratkan pada “Namata”).

[Book Review] The Architect


Jalan Panjang menjadi “Tukang Rancang Bangunan”

Sumber: kutukutubuku.com

Judul : The Architect
Penulis : Ariesta F. Firdyatama
Penerbit : Mazola
Tahun terbit : 2015
Tebal : 320 halaman
ISBN : 978-602-255-859-0

“Hidup itu spekulasi ... Cuma ada dua pilihan, gagal atau berhasil. Kalau hidup cuma buat jadi orang yang cemen ngadepin risiko, ya udah sembunyi aja di ketiak bapak.” – halaman 168.

Untuk meraih kesuksesan pastilah dibutuhkan kerja keras serta tak lupa doa. Akan tetapi, itupun tidak lantas langsung menjamin usaha kita akan berbuah manis. Dalam meniti tangga kesuksesan, jatuh bangun adalah hal yang biasa. Asalkan kita tekun dan selalu berani menghadapi segala risiko yang ada, percayalah, bagaimanapun usaha tidak akan pernah mengingkari.

[Book Review] Cinta di Batas Biarritz



Judul : Cinta di Batas Biarritz
Penulis : D. S. M. Dedelidae
Penerbit : de Teens
Terbit : Juli 2015
Tebal : 272 halaman
ISBN : 978-602-255-802-6

“... aku paling suka kalau sudah berhadapan dengan ombak ... jiwaku seperti sudah menyatu dengan lautan luas. Dan, ombak, dia seperti sahabatku. Meski, dia seperti dua mata pisau yang berlainan.” – halaman 66.

Arlan adalah seorang pemuda 19 tahun yang sangat menyukai selancar. Secara fisik, ia digambarkan memiliki tubuh yang jangkung serta berkulit kuning langsat. Namun, sayangnya ia memiliki sifat cuek yang keterlaluan. Sementara itu, Mori justru sebaliknya. Ia adalah gadis manja tak menyukai selancar dan bahkan membenci ombak. Secara fisik, ia memiliki mata yang bulat dengan rambut berponi depan. Kesamaan antara keduanya hanya satu, yakni keras kepala.

September 9, 2015

[Tugas 1] Contoh Pelanggaran Etika Komunikasi

Membuka Identitas Pelaku Kejahatan di Bawah Umur

Etika sendiri merupakan sesuatu yang berkaitan dengan apa yang baik dan buruk. Ia berada pada level kebijaksanaan individu dan/atau organisasi profesi. Straubhaar & LaRose (2006) menjelaskan bahwa perhatian utama etika (dalam media) adalah akurasi atau kebenaran, keadilan dan tanggung jawab, privasi subyek media dan orang-orang dalam layanan informasi, serta penghargaan terhadap properti intelektual atau ide-ide orang lain.

Dalam etika penyiaran misalnya, apa yang dicakup tidak hanya sebatas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh mereka yang berkerja di dalamnya. Lebih dari itu, etika penyiaran juga mencakup permasalahan mendasar mengenai posisi media saat ini. Nah, salah satu “turunan” dari etika dalam media penyiaran itu sendiri adalah Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

September 6, 2015

[Book Review] HAP!

Sumber: Goodreads

Judul: HAP!
Penulis: Andi Gunawan
Penerbit: PlotPoint Publishing
Cetakan: I, Mei 2014
Jumlah Halaman: 108 halaman
ISBN: 978-602-9481-65-5

Sebetulnya, saya tidak terlalu menyukai puisi. Pokoknya, berbanding terbalik jika dibandingkan dengan kesukaan saya membaca novel. Meski jelas kedua hal tersebut sama-sama ada di ranah sastra. Akan tetapi, harus diakui bahwa saya cukup menikmati puisi-puisi yang tersaji pada buku ini.

Beberapa teman saya berkata bahwa puisi-puisi di dalamnya (dalam bahasa “kekinian”) membuat mereka baper. Sementara itu, bagi saya pribadi beberapa puisi di dalamnya membuat saya sedikit banyak menyadari beberapa hal. Misalnya saja, sepenggal kalimat dari sajak berjudul “Suatu Subuh pada Hari Senin” yang berbunyi,

September 1, 2015

[Book Review] Critical Eleven

Sumber: Goodreads

Judul : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke- : 2, Agustus 2015
Jumlah halaman : 344 halaman
ISBN : 978-602-03-1892-9

“... buat Tanya Risjad, kebaikan suaminya begitu banyak seperti bintang di langit, dan kesalahannya hanya satu, namun sedemikian besarmya seperti matahari yang menutupi jutaan bintang tadi. Dan matahari itu terbit dan tenggelam, bintang-bintang itu muncul lalu hilang, berulang setiap hari, sampai seorang Tanya Risjad bingung apakah dia lebih suka menatap bintang atau terbakar panasnya matahari ...” – halaman 225.

Saya akan merasa berdosa jika saya sengaja menuliskan secuil jalan cerita yang ada pada novel ini. Maka dari itu, setalah saya selesai membaca buku ini, saya segera mengingat-ingat adegan mana yang paling pas untuk menggambarkan keseluruhan isi di dalamnya. Dan, tak perlu waktu lama –cukup dengan men-skimming beberapa halaman– saya menemukan kutipan (yang telah saya tulis di awal) yang menurut saya paling pas untuk memberikan gambaran tentang cerita apa yang diangkat dalam novel ini.