September 27, 2016

Semu

Sumber: tumblr


1
Sampai di titik ini,
ijinkan aku untuk memilih menjadi buta,
ijinkan aku, sekali saja, untuk berpura-pura tidak tahu,
ijinkan aku merasa bahagia untuk sementara waktu,
meski kutahu, pada akhirnya, hanya akan berakhir semu.


2
Hanya satu tanyaku padamu:
Bagaimana kita akan menyelesaikan ini?


3
Yang menyakitkan bagiku adalah
bahwa segala yang sudah terjadi selama ini bukanlah apa-apa bagimu.

September 18, 2016

Ada Aku, Teman Baikmu

Sumber: tumblr

“Adakah seseorang yang melarangmu menangis?”

“...”

“Lalu, mengapa tidak kau menangis saja?”

“...”

“Mengapa kau hanya diam saja? Mengapa kau harus menyimpan semuanya rapat-rapat, sendirian? Kau tahu? Kau terlalu keras terhadap dirimu sendiri! Kau merasa kuat, padahal tidak sama sekali. Kamu itu sok kuat!”

“...”

“Hei, kamu punya teman! Kamu punya aku, dan akan selalu punya aku, yang akan selalu menyediakan diri untukmu. Bahu dan pundak yang sanggup menopangmu tubuhmu. Tangan yang akan merangkulmu. Telinga yang akan mendengarkan segala keluh kesahmu. Mulut yang tak akan menghakimimu. Menangislah jika kau merasa akan lebih baik setelahnya. Berteriaklah jika kau merasa itu dapat melepas semua bebanmu. Lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan. Setidaknya, sekali ini saja, kumohon, bebaskanlah dirimu. Jangan kau belenggukan dirimu sendiri.”

“...”

“Satu hal yang harus selalu kau tahu dan ingat, kau tak sendiri, kau punya aku. Teman baikmu.”

September 16, 2016

Pikiran, Hati, dan Waktu

Sumber: tumblr.com

Kita telah sama-sama tahu,
kita telah sama-sama sadar,
bahwa masing-masing dari kita butuh waktu
untuk menata pikiran dan kepingan hati,
bukan begitu?

Maka,
mestinya kau tahu
bahwa
diamku kepadamu bukan berarti aku tak acuh padamu.
Justru sebaliknya.
Aku memberikanmu (dan juga aku, tentu) waktu,
untuk berpikir.
Waktu,
untuk menata hati.
Agar semua jelas kembali.

Dan berbicara untung rugi,
oh, kumohon!
Bisakah poin yang satu ini dilupakan?
Karena dari apa yang telah terjadi,
maaf sebanyak apapun,
tak akan bisa membuat goresan yang terpatri hilang tak berbekas.

September 11, 2016

[Book Review] Beranda Angin

Sumber: goodreads.com


Judul: Beranda Angin
Penulis: Randu Alamsyah
Penerbit: Diva Press
Terbit: Agustus 2016
Tebal: 328 halaman
ISBN: 978-602-391-203-2

“... mengapa masih ada orang yang tega mengambil sisa-sisa kebahagiaan orang yang sudah tidak memiliki apa-apa lagi di hidupnya?” – halaman 108.

Beranda Angin berkisah mengenai lika-liku kehidupan Lando yang penuh dengan kerikil-kerikil tajam. Sedari kecil, Lando yang merupakan anak semata wayang dibesarkan oleh ayah dan ibu yang berbeda agama –sang ibu beribadah di gereja, sedangkan sang ayah di masjid. Meski sempat menuai konflik di keluarga besar masing-masing, tapi nyatanya kehidupan Lando dan ayah-ibunya tetaplah bahagia.