September 25, 2015

[Book Review] Cinta di Batas Biarritz



Judul : Cinta di Batas Biarritz
Penulis : D. S. M. Dedelidae
Penerbit : de Teens
Terbit : Juli 2015
Tebal : 272 halaman
ISBN : 978-602-255-802-6

“... aku paling suka kalau sudah berhadapan dengan ombak ... jiwaku seperti sudah menyatu dengan lautan luas. Dan, ombak, dia seperti sahabatku. Meski, dia seperti dua mata pisau yang berlainan.” – halaman 66.

Arlan adalah seorang pemuda 19 tahun yang sangat menyukai selancar. Secara fisik, ia digambarkan memiliki tubuh yang jangkung serta berkulit kuning langsat. Namun, sayangnya ia memiliki sifat cuek yang keterlaluan. Sementara itu, Mori justru sebaliknya. Ia adalah gadis manja tak menyukai selancar dan bahkan membenci ombak. Secara fisik, ia memiliki mata yang bulat dengan rambut berponi depan. Kesamaan antara keduanya hanya satu, yakni keras kepala.

Namun uniknya, kedua orang sahabat tersebut ternyata adalah sepasang kekasih. Terbayangkan bukan apa yang terjadi setiap hari? Ribut-ribut kecil tentulah sudah biasa. Namun, rasa sayang yang ada nyatanya tetap mampu menyatukan mereka. Membuang jauh-jauh perbedaan sifat keduanya.

Besarnya rasa sayang tersebut semakin terbukti saat Arlan terseret ombak saat sedang menekuni hobinya. Mendengar hal tersebut, Mori tentu saja dilanda kepanikan hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyusul sang kekasih ke Biarritz, Prancis bersama seorang temannya.

Berhari-hari kabar berita tentang Arlan tak juga didapatkannya. Namun, selama menunggu kabar dari sang kekasih ia mendapati beberapa hal baru. Pertama, ia baru sadar bahwa ternyata dibalik ketidakacuhannya Arlan sebenarnya perhatian sekali pada Mori. Kedua, ia mendapati bahwa teman-teman terdekatnya sama-sama penyimpan sebuah perasaan terpendam yang belum sempat diungkapkan.

Secara keseluruhan, novel yang ditulis melalui sudut pandang orang ketiga ini bercerita mengenai persahabatan dan cinta. Selain, kedua tokoh di atas, tokoh lainnya adalah Alisha –yang memiliki rambut hitam berkeriting, Asih –si gadis desa yang juga sepupu Alisha, serta Dion yang merupakan sepupu Arlan. Untuk plotnya sendiri, novel ini memiliki alur progresif.

Bagi saya pribadi, konflik di dalam novel ini terasa kurang kuat, sehingga menimbulkan kesan datar. Bahkan, pertengkaran-pertengkaran kecil antara tokohnya di bagian awal seolah tidak terlihat. Yang terasanya hanyalah perangai si tokoh yang menyebalkan dan aneh. Lalu, bagian menuju akhir, mengenai kisah segitiga antara Mori, Dion, dan Alisha juga terasa aneh. Penyelesaian konfliknya seperti dipaksakan.

Posisi para tokohnya di sini adalah seorang mahasiswa, tapi kelakuannya justru tergambarkan seperti remaja SMA. Dan lagi, masalah pergi ke Biarritz digambarkan tanpa "effort". Padahal pergi ke luar negeri kan bukan perkara mudah, maksud saya, ambil contoh hal “sesepele” visa yang mana belum tentu approve oleh kekedutaan. Lalu, soal masalah biaya pergi yang tidak murah. Tentu saja pergi ke Prancis tidak murah, tiket pesawat (bukan promo) harganya jelas menguras kantong. Masalahnya, di sini penggambaran kondisi keuangan si tokoh luput dari pembahasan. Paling-paling hanya sekedar penggambaran liburan kecil di kota-kota terdekat.

Intinya, cerita di dalamnya kadang luput terhadap hal-hal yang kecil dan sepele. Untuk teknisnya sendiri, saya masih menemukan kesalahan penulisa. Halaman 55 misalnya, di mana diameter tertulis menjadi diamter (kurang huruf e di tengahnya). Sementara itu, kovernya sendiri bisa dibilang sederhana. Tone warnanya kalem. Perihal yang cukup baik adalah soal blurb-nya yang mana cukup menarik dan mengundang rasa penasaran pembaca.

Selebihnya, selamat membaca sendiri!

No comments:

Post a Comment