September 1, 2015

[Book Review] Critical Eleven

Sumber: Goodreads

Judul : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke- : 2, Agustus 2015
Jumlah halaman : 344 halaman
ISBN : 978-602-03-1892-9

“... buat Tanya Risjad, kebaikan suaminya begitu banyak seperti bintang di langit, dan kesalahannya hanya satu, namun sedemikian besarmya seperti matahari yang menutupi jutaan bintang tadi. Dan matahari itu terbit dan tenggelam, bintang-bintang itu muncul lalu hilang, berulang setiap hari, sampai seorang Tanya Risjad bingung apakah dia lebih suka menatap bintang atau terbakar panasnya matahari ...” – halaman 225.

Saya akan merasa berdosa jika saya sengaja menuliskan secuil jalan cerita yang ada pada novel ini. Maka dari itu, setalah saya selesai membaca buku ini, saya segera mengingat-ingat adegan mana yang paling pas untuk menggambarkan keseluruhan isi di dalamnya. Dan, tak perlu waktu lama –cukup dengan men-skimming beberapa halaman– saya menemukan kutipan (yang telah saya tulis di awal) yang menurut saya paling pas untuk memberikan gambaran tentang cerita apa yang diangkat dalam novel ini.

Ah, ya! Saya hampir lupa untuk bercerita sedikit. Novel ini saya beli dengan perjuangan. Bukan perjuangan dalam hal finansial –seperti yang saya lakukan ketika saya membeli katalog foto Unpublished-nya Kompas– melainkan perjuangan untuk mendapatkannya dari toko buku. Jadi, sebelum akhirnya saya memiliki buku ini, saya telah tiga kali menyusuri Togamas-Togamas dan Gramedia-Gramedia yang ada di Jogja. Dan hasilnya, nihil. Selalu kehabisan. Jadi, ketika tepat hari terakhir di Bulan Agustus lalu saya mendapatkannya, saya tak berhenti tersenyum.

Berbicara masalah gaya penceritaan, tentu saja secara keseluruhan masih sama dengan novel-novel yang pernah Ika tulis sebelumnya. Dan buat saya itu bukanlah sebuah masalah, karena itulah “penanda” atau ciri khas dari Ika. Namun, bukan Ika namanya jika ia tidak memberikan warna baru dalam novel ini.
No more banker seperti novel-novel yang sebelumnya. Kali ini, salah satu “warna baru” yang paling mencolok adalah para tokohnya. Ale si “tukang minyak” dan Anya si konsultan. Ika menggambarkan karakter kedua tokoh utama tersebut dengan sangat jelas dan cukup kuat. Saya melihat, sang penulis di sini “men-challenge” dirinya dengan lebih keras daripada ketika ia menulis novel yang sebelum-sebelumnya. Dan, harus saya katakan bahwa ia berhasil memenangkan challenge tersebut.

Sementara itu, untuk jalan penceritaannya sendiri Ika menggunakan alur maju, namun di dalamnya banyak disisipkan fragmen cerita dengan alur flashback, misalnya seperti adegan di mana salah satu tokohnya sedang mengingat-ingat masa lalunya.

Jujur saja, saya belum pernah membaca versi cerita pendek dari Critical Eleven ini –yang mana pernah diterbitkan dalam sebuah antologi cerpen oleh Gramedia. Pada permulaan bagian novel ini, saya –dan mungkin juga beberapa pembeca di luar sana– merasa seperti orang buta. Saya hanya bisa meraba-raba dan membatin, “Iki ki ono opo to, sakjane? Tokohnya itu baru punya masalah apa, sih?”

Ya, saya dibuat penasaran setengah mati. Pembaca di sini seolah “dipaksa” untuk tidak berhenti membaca sebelum melahap halaman per halaman hingga usai. Bahkan, ketika jawaban akan rasa penasaran itu tadi sudah terjawab. Saya sendiri sebetulnya agak dilema saat membaca novel ini. Di sisi lain, saya ingin segera tahu bagaimana ending-nya, namun saya juga tidak ingin cepat-cepat membacanya. Dan, duh, hingga tulisan ini saya tulis –beberapa jam setelah selesai membacanya– saya masih merasa sedikit delusi. Buat novel metropop seperti ini, Ika memang jagonya.

Secara teknis, saya sangat suka dengan sampulnya. Mulai dari jenis kertas yang digunakan, ilustrasinya, dan pemilihan warna dan jenis huruf hingga tata letaknya. Sederhanya namun tetap menarik.

Terakhir, dari novel ini pula sedikit banyak saya sadar tentang pentingnya belajar untuk memaafkan dan menerima. Menerima dan berdamai dengan kenyataan.


Akhirnya, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment