March 5, 2016

[Book Review] Kasta, Kita, Kata-kata

Seorang Gadis yang Berteman dengan Ketidaknormalan



Judul : Kasta, Kita, Kata-kata
Penulis : Ardila Chaka
Penerbit : PING
Terbit : 2016
Tebal : 188 halaman
ISBN : 978-602-296-183-3

Adanya kesamaan rima, membuat judul novel ini terdengar menarik. Begitu pula dengan konsep ceritanya –yang sebetulnya sederhana. Kasta, Kita, Kata-kata berkisah tentang sepasang teman yang saling melengkapi. Ajeng dengan kekurangannya dan Galih dengan kepeduliannya.

Awalnya, Ajeng adalah seorang anak yang normal. Bertangan dan berkaki dua, berbedan tegap, dapat melihat, mendengar, dan merasakan. Namun, sewaktu ia berumur sekitar 3-4 tahun, ia mengalami demam tinggi yang kemudian membuatnya sulit untuk bicara. Saat itu, orangtuanya tak mampu membawanya ke dokter. Jadilah ia dibawa ke dukun, kata sang dukun Ajeng kena tulah.

Sepanjang hidupnya, 16 tahun lamanya, Ajeng dapat dikatakan tak memiliki teman. Bahkan adiknya sendiri pun memusuhinya. Padahal secara fisik ia terbilang manis, punya lesung pipi, dan berkulit kuning langsat. Secara watak pun Ajeng adalah anak yang baik, rajin, dan sopan.

Namun, kesendiriannya berubah semenjak Galih sering menghampirinya saat sore hari di Kalibiru. Galih sendiri lebih tua satu tahun dibanding Ajeng. Paras yang menarik dan pribadi yang sopan membuat ia banyak disukai orang.

Secara keseluruhan novel ini cukup menarik. Kisahnya memiliki alur yang rapi. Soal sudut pandang, novel ini ditulis dengan menggunakan POV 1. Istimewanya, POV 1 tersebut ditulis melalui dua “kacamata” berbeda, yakni Galih dan Ajeng itu sendiri. Sehingga, saat membacanya, pembaca tidak merasakan “ketimpangan”. Kalau dalam istilah jurnalistik biasa disebut dengan cover both sides.

Lebih jauh, novel ini menggunakan Kalibiru sebagai latar tempat. Sekilas, bagi saya pemilihan ini terbilang mainstream, dan lagi saya cukup menyayangkan karena eksplorasi daerah Kalibiru itu sendiri kurang. Padahal, jika dieksplorasi lebih dalam, akan membuat cerita lebih menarik.
Lepas dari itu, novel ini tak hanya sekedar menyuguhkan cerita saja. Melainkan juga memberikan moral value kepada pembacanya, yakni agar tidak patah arang. Karena apapun kekurangan yang seseorang miliki, jika ia serius dan mau berusaha, bukan tidak mungkin ia akan berhasil.

Untuk segi teknis, saya menemui satu kata yang salah penulisannya. Ada pada halaman 35, di mana (me)nyiangi tertulis menjadi nyaingi (a dan i terbalik). Untuk kover sendiri buat saya tidak ada masalah. Hanya saja memang bagi saya pribadi, desain gambarnya kurang menarik. Terlalu datar. Tapi soal tata letaknya terbilang rapi.

Akhir kata, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment