September 11, 2016

[Book Review] Beranda Angin

Sumber: goodreads.com


Judul: Beranda Angin
Penulis: Randu Alamsyah
Penerbit: Diva Press
Terbit: Agustus 2016
Tebal: 328 halaman
ISBN: 978-602-391-203-2

“... mengapa masih ada orang yang tega mengambil sisa-sisa kebahagiaan orang yang sudah tidak memiliki apa-apa lagi di hidupnya?” – halaman 108.

Beranda Angin berkisah mengenai lika-liku kehidupan Lando yang penuh dengan kerikil-kerikil tajam. Sedari kecil, Lando yang merupakan anak semata wayang dibesarkan oleh ayah dan ibu yang berbeda agama –sang ibu beribadah di gereja, sedangkan sang ayah di masjid. Meski sempat menuai konflik di keluarga besar masing-masing, tapi nyatanya kehidupan Lando dan ayah-ibunya tetaplah bahagia.
Namun, siapa sangka bahwa kehidupan yang bahagia itu mulai memudar ketika sang kakek dari pihak ibu meninggal. Oleh sang ayah, Lando dibawa ke Desa Bumbungan. Rencananya, setelah urusan kematian sang kakek selesai, ibunya pun akan segera menyusul Lando dan suaminya.

Tapi, hingga bulan berganti tahun, sang ibu tak juga menampakkan diri dan kabar. Hingga sebuah kesempatan bernama Lomba Cepat Tepat menghampirinya. Jika, ia berhasil menjadi juara Cepat Tepat tingkat SD berurutan, maka ia akan mengikuti final di ibu kota provinsi, Manado. Ia sangat berharap saat lomba nanti sang ibu akan datang ke studio TVRI, tempatnya mengikuti lomba.

Dan memang itulah yang terjadi, Lando berhasil maju mengikuti final di Manado, bahkan bersama timnya, ia memenangkan kejuaraan Cepat Tepat itu. Tapi, menyedihkannya, di saat yang bersamaan itu, Lando justru sangat terpukul oleh berita bahwa sang ibu tidak (dan tidak akan pernah) datang menemuinya.

Tak bisa menerima kenyataan tesebut, maka dirinya pun memutuskan untuk pergi, meniti kehidupannya sendiri.

-----

Ditulis melalui dua sudut pandang –POV 3 dan POV 1 (khusus untuk cerita yang “dituturkan” Lando), sang penulis menceritakan kisah ini dengan sangat detail. Lebih dari itu, ia juga berhasil memainkan plot dengan apik dan rapi. Selain Lando sendiri, tokoh lain yang ikut mengisi cerita ini di antaranya adalah Fire –yang suka mendominasi pembicaraan dan selalu berusaha terlihat dewasa–, Maya –si gadis berambut lurus berwarna kepirangan yang selalu ceria–, dan penghuni tangga masjid –Yudi, Pudang, Gepeng, Amat, dan Daeng.

Satu hal yang paling membekas di benak saya seusai membaca novel ini adalah melalui novel ini, kalian akan diajak oleh sang penulis untuk mengeja makna kebahagiaan dari hal-hal yang sederhana. Bijaksananya, sang penulis tidak terkesan menggurui para pembacanya. Ia membiarkan pembacanya untuk menyimpulkan sendiri.

Sementara itu, dari aspek teknis, kovernya sendiri memang menggunakan warna yang cukup mencolok, namun sayangnya warna yang mencolok itu terlihat biasa saja. Saya pribadi menilai bahwa desain gambarnya agak kurang menarik –namun sekali lagi, jangan terkecoh dengan kovernya, sebab yang “dijual” dari novel ini adalah jalan ceritanya, bukan kovernya. Lepas dari itu, tata letak halaman dalam novel ini terbilang rapi.

Selebihnya, saya pikir tidak ada masalah dari novel ini. Cerita di dalamnya menarik untuk dibaca.


Akhirnya, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment