August 27, 2016

[Book Review] Me vs Daddy

Sumber: goodreads

Judul: Me vs Daddy
Penulis: Sayfullan
Penerbit: deTeens
Terbit: Agustus 2016
Tebal: 220 halaman
ISBN: 978-602-391-202-5

Novel ini berkisah tentang jalan hidup Karel Marinka, seorang laki-laki berwajah cantik dan bermata lembut yang memiliki prestasi bagus di bidang pastry. Kecintaan Karel sedari kecil terhadap kue kering berbentuk panjang berisi pasta –eclair– membuatnya berkeinginan untuk memiliki sebuah kedai kopi dan toko kue. Namun, dengan keras keinginan Karel itu ditentang oleh sang ayah. Ayahnya, Marvin Marinka –yang berperawakan tinggi, dan berwajah tampan serta memiliki garis rahang yang tegas–, ingin agar Karel terjun dan meneruskan bisnis yang telah dibangunnya sedari lama di bidang properti.

Meski begitu,  mengetahui bahwa sang ayah menentangnya habis-habisan, Karel tidak diam begitu saja. Ia tetap ngotot memerjuangkan mimpinya agar terwujud. Hingga pada akhirnya, terjadilah kesepakatan antara anak dan ayah tersebut. Keduanya masuk dalam sebuah “pertaruhan” dan Karel harus bisa membuktikan kemampuannya. Sebab, jika tidak, maka konsekuensi berat menunggunya.

Dan benar saja, Karel berhasil membuktikan kemampuannya itu, meski sebelumnya sempat mengalami kejatuhan yang membuatnya hampir putus asa. Namun, cerita tidak berhenti sampai di situ. Lagi-lagi muncul permasalahan yang memaksa Karel untuk mengalah terhadap sang ayah.

“Kenapa aku harus ditakdirkan untuk selalu melawan papaku sendiri? Sudah selesai kasus perjanjian kafe, dan kini datang lagi masalah.” – halaman 205.

--------------------

Nah, selain kedua tokoh yang telah disebutkan di atas –Karel dan ayahnya–, tokoh lain yang mengisi cerita dalam novel ini di antaranya adalah Jianna (gadis berwajah imut yang pintar), Renne (sang ibu), Charlot Devina (yang suka mem-bully). Sementara itu, dari segi alur, novel ini memiliki plot progresif. Namun, di dalamnya diselipkan fragmen-fragmen kisah masa lalu, misalnya saja kisah antara Marvin dan mendiang istrinya.

Lepas dari semua itu, novel yang ditulis melalui sudut pandang orang ketiga ini memiliki ide cerita yang mirip dengan novel berjudul Garnish –sama-sama bercerita soal mimpi seorang anak yang ingin bergelut di bidang pastry. Tapi menariknya –pembeda novel ini dari Garnish–, Me vs Daddy tak hanya bercerita soal mimpi Karel saja, melainkan juga soal masa lalu dan keluarga. Tak hanya itu, akhir ceritanya yang tidak bisa ditebak juga menjadi  poin menarik tersendiri dari novel ini.

Sayangnya, dari segi teknis ada sedikit catatan dari saya, yakni perihal masih terdapatnya kesalahan tanda baca dan penulisan. Misalnya saja pada halaman 147, paragraf ketiga dari bawah, di mana sangat tertulis menjadi saat (tidak terdapat huruf “ng” di tengah kata). Selebihnya, untuk kovernya sendiri bagi saya tidak ada masalah. Kovernya cukup sederhana.

Jadi, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment