May 17, 2016

[Book Review] Maple Terakhir

Sumber: Goodreads

Judul: Maple Terakhir
Penulis: Aning Lacya
Penerbit: PING
Terbit: 2016
Tebal: 188 halaman
ISBN: 978-602-407-002-1

“Aku tidak menganggap (masa lalu) penting atau tidak. Tapi ... kita bisa belajar dari sana. Bukan seberapa pentingnya, tapi seberapa jauh kamu belajar darinya.” – halaman 134.

Betapapun pahitnya atau manisnya sebuah kenangan, apapun yang sudah terjadi, sampai kapanpun tak akan bisa kita ubah. Karenanya, tak perlulah sebenarnya kita berlarut-larut untuk menyesalinya –jika kenangan yang dimaksudkan buruk. Jangan pula terlampau larut dalam kebahagiaan hingga lupa bahwa roda hidup terus berputar. Mau pahit atau manis, satu hal yang perlu dicamkan adalah seberapa jauh kamu belajar dari pengalaman pahit dan manis itu. Jika pahit, jadikan kepahitan itu sebagai cambuk agar kamu bisa lebih maju. Sebaliknya, jika manis, jadikanlah itu sebagai penguat motivasimu agar terus dan selalu lebih baik lagi.

Jangan sampai kamu seperti Camille yang selalu ingin berlari dari kenangan masa lalu. Sebab, percaya atau tidak, semakin kamu berusaha berlari dan melupakan kenangan, maka semakin tenggelamlah kamu ke dalamnya.

Kesadaran Camille untuk move-on memanglah ada. Namun, berbagai usaha untuk mengalihkan masa lalunya masih saja gagal. Hingga pada suatu hari, ia melakukan sesuatu yang sama sekali baru, yakni membolos kuliah dan pergi melihat dunia yang baru. Di saat itulah, kemudian ia mendapat teman baru, Joulien dan Ken.

Singkat cerita, pertemanannya dengan Joulien dan Ken menghadapkannya pada sebuah kesadaran baru. Bahwa ternyata meski ia sudah terbebas dari masa lalu “yang dulu”, pada akhirnya ia tetap berhadapan dengan masa lalu “yang baru”. Maka, jalan keluar satu-satunya adalah dengan menghadapinya. Camille tahu bahwa dirinya tak mungkin selamanya harus berlari.

Dilihat dari unsur-unsur instrisiknya, novel ini ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Kemudian, latar tempat yang digunakan adalah beberapa kota di Belgia, seperti Gent, Brugge, dan Antwerpen. Camille sebagai tokoh utama cenderung digambarkan sebagai gadis yang sekilas kurang percaya diri, agak pemurung dan sulit ditebak. Sementara itu, Joulien digambarkan sebagai gadis berambut pajang dan bermata cantik yang sekilas tampak selalu ceria. Sedangkan, Ken adalah seorang laki-laki yang baik hati.

Secara keseluruhan, cerita khas remaja dalam novel ini terbilang cukup manis. Namun, ada beberapa hal yang menurut saya kurang. Pertama, aneh rasanya saat penulis menuliskan secara tersirat bahwa Camille berasal dari Indonesia. Ini karena nama Camille bukan-nama-orang-Indonesia-banget. Saya pikir kenapa tidak sekalian saja dari awal Camille disebutkan sebagai orang Belgia. Toh, saya pikir sepertinya lebih bagus jika begitu, karena dari awal sang penulis telah sedemikian rupa men-treatment sang tokoh utamanya jauh dari segala macam apa yang berkaitan dengan Indonesia. Namun, perlu saya katakan juga bahwa sebetulnya setting tempat yang digunakan tersebut kurang terasa. Penulis kurang sukses dalam mengeksplor perihal latar. Lalu, kekurangan lain ada pada pemaparan masa lalu Camille yang menurut saya kurang clear dan “tegas” serta cenderung bertele-tele dan sepotong-potong –tidak benar-benar utuh. Selain itu, chemistry antara Ken dan Camille juga kurang terasa.

Lepas dari itu, secara teknis, saya cukup suka dengan desain kovernya yang sebetulnya sederhana tapi mengena. Begitu pula dengan tone yang digunakan, yang mana menambah kesan manis. Tata letaknya, baik halaman dalam maupun pada bagian kover, juga terbilang rapi.


Akhir kata, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment