April 2, 2016

[Book Review] Distance Blues

Sumber: Goodreads

Judul: Distance Blues
Penulis: Agustine W
Penerbit: Ping
Terbit: 2016
Tebal: 288 halaman
ISBN: 978-602-391-109-7

Setiap orang pasti pernah mengalami ragu, bahkan mungkin sering. Begitu pula dengan Elmi, seorang gadis yang mengalami OCD –Obsessive-Compulsive Disorder. Dalam novel ini dikisahkan bahwa Elmi merasa ragu dengan keputusannya. Apakah menjalin ikatan serius dengan Dirga, sang kekasih, adalah hal yang tepat? Pasalnya, selama ini Dirga terlihat tidak acuh kepada Elmi. Dirga jarang sekali menghubunginya karena alasan sibuk akan pekerjaan. Padahal tidak setiap seminggu sekali mereka bisa bertemu –ya, Dirga dan Elmi adalah pejuan LDR.

Keraguan itu semakin menguat saat Elmi menyadari bahwa dirinya mengalami OCD. Mengingat bahwa mamanya sendiri pernah menyangka bahwa ia mengalami gangguan jiwa, ia semakin takut kalau-kalau Dirga tidak bisa menerima kondisinya.

Di saat yang bersamaan itu pula muncullah Rasyad, koki sekaligus pemilik restoran Timur Tengah, yang selalu ada untuknya dan dengan tulus mau membantu “menghadapi” OCD yang dideritanya.

“Aku hanya ingin normal kembali .... Berdamai dengan diriku sendiri. Sebab aku nggak bisa menghindar dari kehidupan orang-orang disekelilingku. Ajari aku untuk menghadapi mereka dengan identitas baruku. Aku akan coba nggak lagi mengelak adanya OCD ini.” – halaman 211

---

Untuk penokohan pada novel yang ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga ini, Elmi digambarkan sebagai sosok berambut keriting yang cinta akan kerapian dan kebersihan. Oleh karenanya, apabila ia menjumpai sesuatu yang tidak tersusun rapi dan terlihat bersih, ia akan mengomel –persis seperti sang ibu. Namun, di sisi lain Elmi juga sangat “pemikir”, ia sangat “memedulikan” apa kata orang. Akibatnya, ia terkesan tidak pernah santai.

Berbanding terbalik dengan Elmi, Dirga sendiri digambarkan oleh penulis sebagai Mr. Hot and Cold –kadang terkesan jutek kadang tidak. Namun, sebetulnya Dirga amat peduli kepada orang-orang yang ia sayangi, termasuk Elmi –yang sayangnya tidak menyadari hal tersebut. Sementara itu, Rasyad sendiri dituliskan dengan watak yang ramah dan murah senyum.

Secara keseluruhan, novel ini sangat menghibur. Pengeksekusian akhir ceritanya juga terbilang manis. Lebih dari itu, cara penulis mengemas perihal OCD ini pun menarik. Ia mampu memaparkan dengan cukup baik bahwa OCD bukanlah sebuah “penyakit” di mana penderitanya harus dijauhi. Dan di titik inilah, saya melihat bahwa penulis ingin menumbuhkan kesadaran pembaca terhadap isu OCD itu sendiri.

Lepas dari itu, untuk masalah kover sendiri, dalam hal tata letak, tak perlu dipermasalahkan. Namun, dalam hal desain gambar, saya merasa kovernya kurang menarik. Meski begitu, kalau soal pemilihan warna –warna-warna pastel yang pucat– saya rasa sudah cukup representatif dengan isi cerita –di mana sang pemeran utama sedang mengalami dilema.


Akhir kata, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment