February 1, 2016

[Book Review] Cerita Cinta Enrico

Sumber: Goodreads

Judul : Cerita Cinta Enrico
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : kedua, Mei 2012
Tebal : vii + 244 halaman
ISBN : 978-979-91-0413-7

Sebelumnya, saya mau bilang kalau Cerita Cinta Enrico –selanjutnya akan saya tulis menjadi CCE– adalah kisah yang paling saya favoritkan di antara trilogi Parasit Lajang. Jika, dua serial yang lain lebih merupakan otobiografi seksualitas dan spiritualitas sang penulis sendiri, tidak dengan yang satu ini –meski unsur seksualitas dan spiritualitas, tentunya, tetap ada.

CCE ditulis dengan sudut pandang orang pertama, melalui “kacamata” seorang lelaki bernama Enrico –yang mana adalah kekasih A. Yang menarik di sini adalah pendekatan yang digunakan Ayu. Seperti kata Butet Kartaredjasa, Ayu berani menelanjangi kisah lelaki tersebut hingga ke akarnya. Tentu hal tersebut menjadi poin plus tersendiri, sebab tak banyak orang yang berani mengisahkan hal yang sangat intim begini. Dan, tak semua orang yang berani mengisahkan juga dapat menulis sebaik Ayu.

Dalam penulisannya, kisah nyata yang difiksikan ini terbagi menjadi tiga bab, yakni cinta pertama, patah hati, dan cinta terakhir? Kemudian, untuk latar tempat sendiri, Ayu banyak menggunakan setting di Sumatra Barat dan beberapa kota lain di Jawa, seperti Jakarta dan Bandung.

Lepas dari itu, pada buku ini saya melihat bahwa cerita yang ditulis Ayu ini sangatlah fokus –persis sesuai dengan judulnya. Atau dalam Bahasa Jawa, saya biasa menyebutnya dengan, ora mbladrah. Alhasil, pembaca pun mampu menikmati dengan mudah, sebab ceritanya begitu mengalir. Membaca buku ini rasanya tidak seperti “membaca”, melainkan mendengarkan orang bercerita.

Tak hanya itu, meski ditulis dengan bahasa yang sederhana namun –setidaknya buat saya– emosi di dalamnya tetap terasa. Dan satu lagi, walaupun beberapa bagian terdapat kisah yang mengalami sedikit pengulangan sebagai bentuk penegasan atau pengingat, namun, anehnya, hal tersebut tidak terasa mengganggu –setidaknya bagi saya.

Nah, untuk segi teknis sendiri, buku ini memiliki kover dengan desain gambar yang paling sederhana dibanding dua serial yang lainnya. Dan, kalau boleh saya bilang, untuk kover yang satu ini kesannya sangat plain. Tetapi, yang saya suka adalah perpaduan warna antara latar belakang dengan desain gambar –sekaligus judul. Sederhana, namun tetap mencolok. Menggunakan “warna stabilo”, namun tidak terkesan norak.


Untuk selebihnya, buat saya tidak ada masalah. Jadi, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment