November 19, 2015

[Book Review] Cahaya Bintang Tareem

Sumber: Diva Press

Judul : Cahaya Bintang Tareem
Penulis : TaaNee Jee
Penerbit : Diva Press
Terbit : November 2015
Tebal : 320 halaman
ISBN : 978-602-0809-67-9

Apa jadinya apabila kalian terperangkap dalam sebuah pernikahan yang tidak kalian inginkan? Bagaimana jika istri atau suami kalian adalah orang yang sama sekali tidak kalian kenal sebelumnya dan tiba-tiba tanpa perkenalan kalian harus menikah? Sebagian besar dari kalian pasti akan menolaknya, bukan?

Begitu pula dengan Dee. Tetapi, sedikit berbeda dengan Algha yang mana berusaha untuk mengikhlaskan adanya pernikahan di antara mereka. Atau lebih tepatnya, terpaksa berusaha mengikhlaskan.

Nah, dikisahkan dalam novel ini bahwa Dee dan Algha terperangkap dalam sebuah pernikahan dikarenakan sebuah kecelakaan konyol. Singkatnya, meski keduanya tidak menghendaki, pernikahan mereka pada akhirnya tetap dilangsungkan. Namun, apa yang terjadi? Dari luar, orang yang melihat mereka dapat dipastikan akan berpikiran bahwa mereka baik-baik saja. Tetapi,  pada kenyataannya, hubungan mereka jauh dari kata baik. Sebab, yang terjadi disetiap harinya hanyalah pertengkaran dan pertengkaran.

Pertengkaran tersebut dirasa “wajar” sebab bagi Algha, Dee adalah seorang perempuan yang kasar dan menyebalkan, juga galak. Sementara itu, Dee sendiri menganggap bahwa Algha adalah laki-laki yang membosankan dan menyebalkan.

Untuk segi kontennya sendiri, novel ini ditulis dengan alur maju-mundur melalui sudut pandang orang ketiga. Latar tempat yang diambil ada di Jakarta dan Yaman. Namun, Jakarta lebih mendominasi. Sayangnya, entah ini baik atau buruk, pada latar yang berada Jakarta, “aura” dari kota itu sendiri tidak terasa. Saya sendiri merasa, dari awal, yang tergambarkan justru Yaman.

Secara keseluruhan, saya menyukai konsep yang dibawa. Tetapi, saya merasa aneh dengan penggambaran “kealiman” Dee. Seperti kurang tegas. Masa’ seorang perempuan yang sudah menikah pergi dengan laki-laki lain? Sebetulnya, awalnya saya tidak mempermasalahkan hal ini. Namun, rasanya agak aneh saja ketika konteks ceritanya berbau islami. Kesan ketaatan tokohnya kepada agama tiba-tiba terusak pada titik ini. Kesannya seperti penulis kurang tegas dalam memberikan karakter pada tokohnya.

Itu terlepas dari keinginan penulis yang memang menginkan jalan cerita dibuat begitu lho, ya. Saya rasa, hal sekecil itu juga harus diperhitungkan oleh si penulis. Kemudian, saya juga merasa aneh dengan bagian di mana Algha dan Dee tiba-tiba dinikahkan. Hanya satu perrtanyaannya saya, dari mana mas kawinnya didapatkan? Sayangnya, itu tidak dijelaskan dalam novel ini.

Lalu, untuk segi teknis sendiri, saya masih menjumpai adanya kesalahan penulisan di sini. Salah satunya dapat dilihat pada halaman 193, di mana baik-baik tertulis menjadi baik-naik. Sementara itu, untuk desain kover, saya sendiri menyukainya. Desain gambarnya sendiri sebetulnya terbilang sederhana. Tetapi, semua komponennya ditata dengan rapi. Pemilihan warnanya pun memberikan kesan manis tersendiri bagi novel ini.


Akhir kata, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment