October 31, 2015

[Book Review] Comedy Apparition

Sumber: Goodreads

Judul : Comedy Apparition
Penulis : Ginger Elyse Shelley
Penerbit : Laksana
Tahun terbit : 2015
Tebal : 244 halaman
ISBN : 978-602-7933-87-3

Detik pertama saya mendapatkan buku ini, saya pikir ini adalah buku terjemahan. Dugaan saya tersebut juga diperkuat oleh nama sang penulis yang “kebarat-baratan”. Eh, namun ternyata bukan. Meski mulai dari tema, judul, latar, tokoh hingga gaya penceritaan mirip dengan buku terjemahan, tetapi buku ini dibuat oleh orang Indonesia.

            Buku ini berkisah tentang keluarga Seer yang beranggotakan duabelas orang. Sang ayah bernama Wolf Seer, seorang Dosen Filosofi Universitas Parker. Sementara itu, sang ibu bernama Galleg Hembourg, seorang penulis yang novelnya tidak pernah laku. Lalu, sisanya? Ya, bisa ditebak bahwa sepuluh anggota lainnya adalah anak-anak Wolf dan Galleg.

Anak pertama bernama Harvard Seer, gadis cerewet berusia 32 tahun yang bekerja sebagai resepsionis sebuah klinik. Anak kedua ialah Rex Seer, pria berusia 29 tahun yang bekerja di sebuah perpustakaan besar di kota. Lalu, anak ketiga adalah Luther Seer yang berumur 27 tahun. Ia bekerja sebagai jurnalis di sebuah majalah olahraga. Anak keempat bernama Moss seer yang dua tahun lebih muda dari Luther. Ia bekerja sebagai guru SD, tetapi yang “lucu” adalah kenyataan bahwa ia sama sekali tak menyukai anak-anak.

Kemudian, diurutan kelima ada Pinerose Seer yang berusia 20 tahun dan sedang menyelesaikan pendidikannya. Lalu, anak keenam adalah Craish Seer yang lahir diluar rencana. Ia adalah anak terbengal di keluarga Seer. Anak ketujuh bernama Cameron, berumur 14 tahun –setahun lebih muda dari Craish. Ia berperawakan tinggi, memiliki tampang yang rupawan, dan selalu optimis. Namun, sayangnya ia sering murung. Urutan selanjutnya adalah si kembar Rocca dan Rouscha yang berusia 12 tahun. Terakhir, ada Luca yang meski baru 11 tahun, namun ia sangatlah dewasa dan misterius.

Keduabelas anggota keluarga tersebut tinggal di sebuah rumah yang tidak besar namun juga tak kecil. “Halaman belakangnya” adalah sebuah hutan. Dan oleh karenanya, banyak tetangga yang berpikir bahwa beberapa anggota Keluarga Seer tinggal di hutan. Perlu juga untuk diketahui bahwa tokoh dalam novel ini ada banyak sekali. Selain seluruh anggota Keluarga Seer, ada pula Stephen dan Mary –teman sekolah Cameron, serta masih banyak lagi.

Secara keseluruhan, cerita yang disuguhkan oleh penulis terbilang menarik. Ia menawarkan tema yang berbeda dari novel-novel remaja Indonesia kebanyakan. Di dalamnya pula, terdapat beberapa twist-twist kecil yang tak terpikirkan oleh pembaca sebelumnya. Ah, ya, novel ini juga tidak hanya cocok dibaca oleh remaja, saya rasa para dewasa muda juga masih sangat cocok untuk membacanya.

Untuk segi teknis sendiri, saya tidak bermasalah dengan desain sampulnya. Warna kuning yang dipakai sebagai latar, cukup mengundang mata orang yang melihatnya. Yang kurang saya sukai adalah ukuran bukunya yang “panjang”. Kalau saya pribadi, sebetulnya, lebih suka dengan ukuran buku yang kecil, meski jatuhnya halaman buku menjadi lebih tebal. Selebihnya, saya tidak mempermasalahkan apapun.

Akhirnya, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment