October 18, 2015

[Book Review] 7 Kisah Klasik Poe

Sumber: Goodreads

Judul : 7 Kisah Klasik
Penulis : Edgar Allan Poe
Penerjemah : Dion Yulianto dan Slamat P. Sinambela
Penerbit : Diva Press
Terbit : September 2015
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-255-968-9

Bagi para penikmat karya-karya sastra, nama Egdar Allan Poe pastilah tidak asing lagi di telinga. Begitupun dengan saya. Akan tetapi, baru di bulan inilah saya berkesempatan untuk membaca karyanya. Ternyata karyanya –yang ada di buku ini tepatnya– identik dengan hal-hal yang “gelap”, sedikit horor, dan penuh teka-teki. Gaya berceritanya pun terkadang terlalu bertele-tele, misalnya saja seperti pada cerpen yang berjudul “Kucing Hitam” dan “William Wilson”. Sebetulnya pula, kalau dilihat-lihat –dari sudut pandang pribadi saya– jalan cerita cerpen-cerpennya terkadang rumit, kadang agak kurang bisa dipahami apa value yang penulis ingin sampaikan. Tapi di sisi lain, secara bersamaan, si penulis juga berusaha menyuguhkan jalan cerita yang sesederhana mungkin.

Dari ketujuh cerita pendek yang ada di dalamnya, yang paling saya suka adalah “Kucing Hitam” dan “Kumbang Emas”. Untuk “Kucing Hitam” sendiri, menurut saya adalah cerita terhoror yang ada pada buku ini. Dan, harus diakui, meski saya sama sekali tak menyukai hal-hal berbau horor, namun cerita ini seakan memiliki daya “magis” tersendiri, sehingga akhirnya saya menyukainya.

Sementara itu, “Kumbang Emas” lebih cenderung bercerita tentang pemecahan teka-teki. Inti ceritanya adalah perburuan harta karun peninggalan bajak laut. Sebagai informasi, “Kumbang Emas” ini disebut-sebut sebagai cerpen “bajak-laut” pertama Poe. Meski ceritanya terbilang cukup panjang –untuk ukuran cerita pendek– namun tetap seru dan tidak membosankan untuk dibaca. Bagi yang menyukai teka-teki, cerita pendek ini jelas wajib untuk dibaca.

Nah, kesamaan antara ketujuh cerita di dalamnya –selain pada tema– ialah gaya penceritaan yang mana selalu ditulis dari sudut pandang orang pertama. Dalam berkisah, Poe selalu memosisikan dirinya sebagai “pendongeng”. Hal ini ditandai dengan kalimat seperti, “Aku hendak menuliskan kisahku...” dan sejenisnya.

Untuk segi teknis sendiri, buat saya tidak ada yang bermasalah. Kovernya sederhana, namun memiliki tone yang representatif dengan tema cerita di dalamnya. Saya pribadi pun menyukai desain gambarnya. Dan, merujuk bahwa buku ini merupakan antologi cerpen Poe yang mana terbilang klasik, secara typografi tipe huruf yang digunakan untuk judul dan nama pengarang pun juga sangat representatif.


Jadi, tunggu apa lagi? Selamat membaca!

1 comment: