August 22, 2015

Kontradiksi

Sumber: rebloggy.com


Kafe tempat kita sering berkunjung –dulu, masih tetap sama.
Masih dengan sulur-sulur yang merambat di dekat pintu masuknya.
Masih dengan dinding kayunya yang tak lapuk dimakan usia.
Masih dengan meja-meja kuno yang bertaplakkan kain motif bunga di atasnya.
Masih terdapat sebuah lukisan secangkir kopi di pojok bangunannya.
Dan masih pula terdapat mesin ketik tua di meja kasirnya.
Pun suasananya masih tetap sama menyenangkannya.

Bedanya tak ada lagi alunan musik klasik
yang menemani pelanggan untuk menyesap kopinya.

Kini alunan klasiknya telah berganti menjadi alunan jazz,
agar lebih "hidup" kata pegawainya.


Malam ini, sepi sekali.
Pelanggan hanya tinggal sepasang remaja yang sedang kasmaran,
yang sedang merajut mimpi lan janji di masa depan.
Yang sedang saling asyiknya melontarkan kata cinta, penuh akan gombalan.
Sepasang muda-mudi yang tak menyadari,
bahkan tak peduli bahwa bisa saja setelah ini cerita dan janji mereka kandas begitu saja.

Dan tentunya juga ada aku.
Aku dengan pasanganku yang mewujud sebagai masa silamku.
Aku yang sedang menggali ingatan,
mengingat janji-janji di masa depan yang dibuat pada masa silam.
Aku yang sedang melontarkan cacian,
penuh akan cercaan pun makian yang kutunjukkan untuk masa silam.

Sepasang wajah penuh akan kegembiraan terpancarkan dari rona mereka.
Sedang aku?
Jangan ditanya lagi, wajah penuh sendulah yang tentunya terpancarkan dari rona pipiku.

Sepasang remaja yang duduk di ujung kafe ini saling bermesraan bahkan sesekali berpagutan.
Aku di bangku biasa tempatku berbagi kisah dengannya dulu,
sibuk berhantaman, tak mau berdamai dengan masa silam.

Malam semakin kelam.
Jam terbang kafe ini akan segera usai.
Dua sejoli itu kini mulai beranjak pergi meninggalkan.
Begitu pula diriku, yang seharusnya sudah sejak tadi meninggalkan.
Mereka berjalan beriringan dengan sesekali bersentuhan,
saling bergandengan.
Menunggu taksi malam dipinggir jalan, sembari bercakap riang.

Pun aku begitu.
Aku berjalan dengan masa silam yang membelit tak mau terlepaskan.
Terkadang di tengah sunyinya jalanan sesekali aku bercekcok ria dengan ingatan silam.
Masih sempat pula dalam kesendirian jalanan aku sedikit berharap pada yang silam.
Namun, pikiran kelam itu segera kuenyahkan.
Agar racunnya tidak kembali menenggelamkan.

No comments:

Post a Comment