June 6, 2015

[Book Review] Marriage Most Scandalous


Gairah, Intrik, dan Skandal
Sumber: goodreads

Judul : Marriage Most Scandalous
Penulis : Johanna Lindsey
Penerjemah : Isma Badrawati
Penerbit : Gagasmedia
Tahun Terbit : 2009
Jumlah Halaman : vi + 452 halaman
ISBN : 979-780-312-0

“Kau bahkan tak keberatan juliette menguasai Edgewood? Aneh sekali, ya, mengingat dialah yang membuatmu harus berduel, lalu membuatmu berkemas-kemas dan pergi dari rumah ayahmu sendiri.” – halaman 69.



Ya, semuanya berawal dari kejadian di mana Sebastian Townshend, putra sulung dari generasi kedelapan Earl of Edgewood, yang berduel dengan Giles, sahabat karibnya sendiri. Penyebab dari perduelan mereka sendiri adalah karena Giles sangat murka kepadanya sebab Sebastian bercinta dengan istrinya. Singkat cerita, dari perduelan nahas tersebut Sebastian dibuang oleh ayahnya sendiri. Dari situlah kemudian ia bersumpah kepada dirinya untuk tidak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di tanah Inggris.
Bertahun-tahun terhitung semenjak ia meninggalkan rumahnya, Sebastian justru menjadi terkenal dengan nama the Raven. The Raven merupakan perwujudan dari jati dirinya yang baru. Jati diri yang mana terbentuk tanpa ia kehendaki.
Konflik-konflik dalam novel ini sendiri mulai memanas saat sebuah peristiwa yang tak disangka membuatnya bertemu dengan Lady Margaret Landor, mantan tetangga di masa kecilnya dulu. Maggie –sapaan akrab Margaret, pun terkejut ketika mendapati bahwa the Raven adalah Sebastian. Sebab, tujuannya untuk mencari the Raven tak lain dan tak bukan adalah untuk menemukan Sebastian, agar ia dapat memecahkan misteri kecelakaan beruntun yang dialami oleh ayah Sebastian. Demi “menjunjung tinggi” sumpahnya, pada awalnya Sebastian tak mau untuk memecahkan misteri tersebut. Namun, atas kegigihan Maggie –alih-alih kekeraskepalaan, Maggie pun berhasil meyakinkan Sebastian untuk membereskan masalah tersebut.

Akan tetapi, tentu tak seru jika masalah selesai di titik itu. Dibalik keberhasilannya membujuk Sebastian, Maggie masih harus dipusingkan dengan bagaimana cara agar kembalinya laki-laki itu ke Inggris tampak wajar dan tidak menimbulkan kecurigaan. Akhirnya, sebuah keputusan pun diambil. Sang Lady mengusulkan supaya mereka berpura-pura sudah resmi menjadi suami istri. ‘Ironisnya’, Maggie lupa dengan fakta kecil bahwa laki-laki itu sempat menarik perhatiannya semasa remaja dulu. Dan, meski ia malu mengakuinya, jauh di dasar lubuk hati Maggie sepenuhnya sadar bahwa lelaki itu tetap, bahkan, jauh lebih memesona.
Selain Sebastian –yang rupawan, tinggi namun keras hati– dan Margaret –yang cantik, cerdas, namun keras kepala– tokoh lain yang berperan cukup banyak dalam novel ini adalah John Ricard –pelayan pribadi Sebastian, Timoty Charles, Juliette, dan ayah Sebastian.
Berbicara mengenai tanggapan saya akan novel ini, jujur saya setelah saya selesai membacanya saya merasa terbodohi dan terbohongi. Ya, novel ini tak hanya menarik tapi juga menyimpan twist yang besar. Twist yang mana tidak dapat tertebak sama sekali –setidaknya bagi saya. Cerita di dalamnya banyak menyimpan intrik-intrik dan skandal. Bagusnya, intrik-intrik di dalamanya sama sekali tidak memuakkan yang ada justru sebaliknya –membuat kita semakin penasaran.
Narasi dan pendeskripsiannya yang enak dibaca dan sangat mengalir membuat saya tak ingin untuk berhenti membacanya. Permainan alurnya pun terbilang sangat rapi, sehingga pembaca mudah untuk mengikuti jalan ceritanya. Lalu, untuk penokohannya sendiri pun terbilang cukup baik. Karakter-karakter yang ada di dalamnya digambarkan dengan cukup kuat.
Untuk latar sendiri, saya pribadi tidak merasa ada masalah. Tidak ada kesan “tempelan” pada latar tempat maupun latar waktu yang digunakan oleh penulis. Latar tempat yang digunakan oleh penulis sendiri adalah Austria, Perancis, dan Inggris –sebagian besar. Sedangkan, untuk latar waktu penulis di sini menggunakan setting tahun 1800-an.
Untuk segi teknis sendiri, selain terjemahannya -yang masih kurang baik, saya sangat menyayangkan bahwa masih terdapat beberapa kesalahan penulisan di dalamnya. Dan maaf karena saya lupa untuk menuliskan pada halaman berapa saja kesalahan penulisan tersebut berada. Untung saja, dari segi isi cerita sendiri tidak mengecewakan, sehingga kesalahan tersebut cukup dapat termaafkan.
Untuk sampulnya sendiri, saya sangat suka dengan tatak letaknya. Sederhana namun menarik. Begitu pun dengan warna yang digunakan sebagai latar belakang sampul. Penuh nuansa krem dan merah muda, yang menurut saya cukup untuk merepresentasikan gairah-gairah yang ada dalam cerita. Namun, jujur saja bahwa saya pribadi kurang menyukai desain gambar bibir yang digunakan. Alih-alih sensual, menurut saya yang ada justru menggelikan. Ah, tapi itu bukan masalah besar, kok. Menurut saya itu hanya masalah selera.
Oh, ya. Ada sebuah kalimat yang saya suka dari novel ini. Kalimat yang diucapkan oleh Sebastian kepada Maggie. Begini bunyinya,
“Aku merasa di rumah begitu kau mengatakan kau mencintaiku, Maggie. Rumahku adalah di mana pun kau berada.” – halaman 450
Ahirnya, selamat membaca!


---
*) Versi lebih "rapi" tulisan ini bisa di baca di di bacasaja.

No comments:

Post a Comment