June 1, 2015

[Book Review] Insya Allah, Aku Bisa Sekolah


Cerita tentang Pendidikan dan Persahabatan
Sumber: goodreads

Judul : Insya Allah, Aku Bisa Sekolah
Penulis : Dul Abdul Rahman
Penerbit : Diva Press
Cetakan : I, Februari 2015
Jumlah Halaman : 276 halaman
ISBN : 978-602-255-808-8

“Kami adalah dua orang sahabat yang saling menguatkan dalam mengerjar cita-cita.”
 – halaman 108.
Begitulah kira-kira gambaran mengenai kisah persahabatan antara Samadin dan Sapril. Sebelumnya, perlu diketahui pula bahwa Samadin dan Sapril merupakan anak seorang nelayan yang penghasilannya tak seberapa. Namun, semangat mereka untuk bersekolah itulah yang patut untuk diacungi jempol. Samadin sendiri digambarkan sebagai anak yang giat dan tak pantang menyerah. Begitu pula dengan Sapril, hanya saja bedanya terletak bahwa Sapril cenderung lebih keras kepala daripada Samadin.
Cerita pada novel ini sendiri bermula dari keinginan Daeng Marewa –ayah Samadin yang bersifat bijak, baik, penyayang, taat beragama, dan memiliki wawasan yang cukup– untuk menyekolahkan Samadin hingga ke jenjang pendidikan yang setinggi-tingginya. Ia tak mau Samadin bernasib sepertinya, yang notabene hanya menjadi seorang nelayan kecil saja. Ia selalu menasihati sang anak untuk terus bersemangat dalam menuntut ilmu dan meraih cita-cita.
Nah, bersama Sapril-lah kemudian ia, Samadin, belajar di manapun. Mereka bersaing secara sehat. Sapril sendiri meski lebih tua daripada Samadin, namun ia masih duduk di satu tingkat lebih bawah daripada Samadin. Hal tersebut dikarenakan Sapril pernah putus sekolah. Bukan karena tak ada biaya, melainkan sang ayah tidak memiliki kesadaran bahwa menyekolahkan anak setinggi-tingginya merupakan hal yang penting. Namun, tentunya persahabatan Sapril dengan Samadin tak hanya soal belajar saja. Mereka juga masih sering bermain-main di Sungai Jeneberang atau Pantai Barombong. Tak hanya itu, mereka bahkan juga membuat sebuah komunitas “Save Jeneberang River”.

Lepas dari kisah persahabatan Samadin dan Sapril, apa daya, malang tak dapat ditolak. Singkat cerita, masa depan Samadin seolah berubah suram ketika sang ayah tiada. Ia terancam tak dapat lagi melanjutkan sekolah. Kedudukannya sebagai anak sulung dengan ibu yang mengalami kelumpuhan pada salah satu kakinya membuatnya bimbang. Ia bingung untuk mengatasi persoalan tersebut. Di satu sisi, kejadian tersebut sebetulnya memaksanya untuk mau tak mau menjadi tulang punggung keluarga. Namun, di sisi lain, ia belum siap jika harus melepaskan keinginannya untuk bersekolah hingga jenjang yang setinggi-tingginya.
Dari segi cerita, novel yang ditulis dengan sudut pandang orang pertama ini menurut saya memiliki narasi yang enak dibaca. Pun dengan cara penulis menuliskan sebuah deskripsi yang mana menurut saya cukup rapi. Tak ketinggalan, poin plus lainnya ada pada nilai moral atau pesan yang coba dihantarkan oleh penulis secara tersurat pada novel ini. Dan satu lagi, saya pikir sedikit banyak novel ini juga mengangkat budaya lokal yang ada di Makassar itu sendiri.
Namun, lepas dari itu, saya cukup menyayangkan soal penggunaan dialek. Menurut saya –meski di dalamnya terdapat beberapa dialog dengan menggunakan Bahasa Makassar– namun, saya pribadi merasa dialek yang digunakan “kurang kuat”. Dari segi penggunaan dialek, saya belum merasakan bahwa tokohnya merupakan orang Makassar. Lalu, untuk penggambaran ayah-anak (antara Samadin dan ayahnya) menurut saya kurang kuat. Meski dalam novel ini sang ayah sering sekali memberikan wejangan kepada Samadin, namun dari awal hingga akhir cerita saya tidak bisa menangkap emosi yang terjalin antara mereka berdua. Sudah begitu, pada bagian tengah menuju akhir –sebelum ayah Samadin meninggal, menurut saya agak membosankan. Seolah temponya berjalan melambat.
Kemudian, beralih ke segi teknis, meski gambar sampulnya tidak cukup representatif dengan judulnya namun saya pribadi cukup menyukainya. Menurut saya desainnya simpel dan tidak neko-neko. Hanya saja, mungkin akan lebih baik jika ukuran huruf untuk nama penulis dibuat lebih kecil daripada ukuran huruf untuk judulnya. Untuk selebihnya, buat saya tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.
Jadi, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment