May 22, 2015

[Book Review] Sokola Rimba


Catatan Butet tentang Sokola Rimba
Sumber: goodreads

Judul : Sokola Rimba
Penulis : Butet Manurung
Penerbit : INSISTPress
Tahun Terbit : 2007
Tebal halaman : xvi + 250 halaman
ISBN : 979-3457-83-X

“Benarkah konvervasi hutan adalah satu-satunya jawaban? Bahwa kalau ada hutan, pasti Orang Rimba hidup bahagia? Hutan thok... tanpa perlu meningkatkan kapasitas mereka?” –halaman 179.

Ya, buku ini memang bercerita mengenai kehidupan Orang Rimba. Hmmm... lebih tepatnya adalah catatan seorang Butet saat mencoba mendekati Orang Rimba untuk mengenal pendidikan. Jika dibilang menginspirasi menurut saya bisa ya, bisa juga tidak. Namun, yang jelas adalah bahwa buku ini menggambarkan realitas tentang masyarakat suku dalam yang selama ini tidak dipahami oleh kita, “orang luar”.
Entahlah, tapi dengan membaca buku ini lagi-lagi saya dihadapkan –dengan lebih jelas, betapa diskriminasi masih sangat kental terjadi di belahan bumi ini, termasuk diskriminasi suku. Suku dalam atau orang pedalaman selalu dianggap terbelakang. Padahal menurut saya tak begitu. Namun, bisa jadi begitu jika dihadapkan pada konteks teknologi yang ada saat ini. Intinya adalah bahwa sebetulnya bukanlah hak kita untuk mengatakan suatu kaum terbelakang atau sebaliknya.
Kok saya jadi tidak fokus begini ya menulisnya. Uh! Jujur, lagi-lagi melihat diskriminasi seperti ini batin saya jadi terusik. Saya memang bukan “pecinta alam” seperti Butet, bukan pula aktivis yang selalu melakukan aksi setiap menemui “ketidakadilan”. Namun, saya selalu miris ketika melihat atau mendengar atau apapunlah itu yang berkaitan dengan diskriminasi terutama mengenai pendidikan dan perempuan.
Kembali ke pembahasan utama. Pada saat Butet ingin memberikan pendidikan kepada Orang Rimba ini tentunya tak serta merta mudah begitu saja. Di sini Butet pun juga telah banyak bercerita mengenai hambatan-hambatan dalam memberikan pendidikan tersebut. Ah, jangankan untuk memberikan pendidikan. Bahkan untuk sekedar mendekati saja pun bukan berati itu merupakan hal yang mudah. Salah-salah dalam melakukan pendekatan, maka akibatnya adalah “jangan usik-usik desa kami” atau lebih gamblangnya adalah pengusiran. Dan Butet tentu pernah mengalaminya.
Secara mendasar hambatan untuk memberikan pendidikan terhadap Orang Rimba tersebut terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal tentunya berasal dari para orang tua-orang tua anak Orang Rimba yang menganggap bahwa pendidikan akan “merubah” mereka. Pendidikan tak ada gunanya bagi mereka. Atau yang lebih parah lagi adalah, mereka beranggapan bahwa itu bisa mendatangkan marabahaya berupa penyakit, kematian, atau yang lainnya.
Kemudian, untuk faktor eksternalnya sebagian besar berasal dari para tauke-tauke kayu yang merasa terancam. Kasarnya dapat dikatakan bahwa dengan Orang Rimba bisa baca-tulis-hitung itu berarti mereka akan menemui “kesulitan” jika ingin melakukan tindak kecurangan, seperti membohongi upah yang diberikan saat Orang Rimba menjual getah karetnya ataupun yang lainnya.
Yang menarik dalam buku ini salah satunya adalah cerita mengenai beberapa anak yang nekad menentang para orang tua mereka untuk bersekolah. Bahkan beberapa diantaranya terang-terangan memilih untuk bersekolah meski resikonya “ditendang” dari kawanannya. Ah, betapa pada setiap pengorbanan selalu ada harga yang harus dibayar. Nah, ini poin yang cukup penting –setidaknya bagi saya, bahwa kalian juga harus tahu bahwa tak sedikit diantara Orang Rimba yang sebetulnya memiliki daya tangkap serta daya ingat yang cepat dan cukup baik.
Mereka jelas memiliki kesempatan yang sama, memiliki juga kemampuan (dalam artian yang luas) –yang bahkan bisa jadi melebihi kemampuan kita, dan yang lebih penting adalah mereka memiliki hak yang sama. Nggak adil rasanya jika kita memandang mereka sebelah mata. Meski ya mungkin dalam prakteknya –setidaknya, pada awal perjumpaan “pandangan sebelah mata” tersebut bukan tidak mungkin ada dalam pikiran kita, malah mungkin agak sulit untuk disingkirkan. Namun, maksud saya adalah lebih ke pandangan-pandangan “kolot” kita tentang betapa bla bla bla-nya mereka.
Oh ya, dan satu lagi, melalui buku ini saya juga lebih memahami bahwa konteks pendidikan di sini tak hanya berkisar pada baca-tulis-hitung saja, namun juga menyangkut pada aspek kehidupan mereka, agar mereka mampu menghadapi tekanan jaman. Dan yang lebih penting lagi, suku dalam sebetulnya tak hanya membutuhkan pendidikan saja, tapi mereka juga butuh sentuhan dinas kesehatan. Ah! Mestinya orang-orang Terhormat di negeri ini harus lebih memperhatikan mereka lagi.
Nah, ada cerita unik sekaligus menyebalkan lagi dalam buku ini –berkait dengan kesehatan, bahwa di dalamnya dituliskan bahwa biaya berobat bagi Orang Dalam tadinya lebih dimahalkan dari pada orang luar. Ah! Apa-apaan perlakuan seperti ini, dasar kapitalis! Jadi, mungkin mereka mengira bahwa Orang Rimba itu kaya bergelimang harta, padahal sejatinya mereka bahkan sering ditipu saat melakukan transaksi jual beli. Ah, dasar bedebah!
Duh, maaf sekali saya tahu bahwa tulisan kali ini tak pantaslah sejatinya jika disebut resensi, sebab ini lebih tepat disebut sebagai tulisan opini tentang sebuah diskriminasi suatu suku. Ah, tapi apapunlah tulisan ini disebut bagi saya itu tak penting. Bagi saya, kalian –yang membaca tulisan buruk ini, nantinya akan mau untuk membaca buku ini dan kemudian akan bisa lebih membuka mata lagi mengenai berbagai realitas yang ada di sekitar kita saat ini. itu sudah jauh lebih cukup. Dan sebagai penutup, sebelum saya ucapkan selamat membaca, ijinkan saya menuliskan suatu kalimat yang membuat saya merasa miris dan berpikir agak lama ketika membacanya.
“Kamu enak ibu guru, kalau hutan habis, kamu hanya tinggal pulang ke kampungmu, tinggal aman dengan ibumu. Kalau kami, mau lari kemana? Gak ada yang bisa kami makan lagi di sini.”
Dan akhirnya, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment