May 11, 2015

[Book Review] Le mannequin: Hatiku Tidak Ada di Paris


Maneken, Paris dan Pelabuhan Hati
Sumber: goodreads

Judul : Le mannequin: Hatiku Tidak Ada di Paris
Penulis : Mini GK
Penerbit : DIVA Press
Tahun terbit : Juni 2014
Tebal halaman : 361 halaman
ISBN : 978-602-255-588-9
“Kamu harus bisa bertahan menghadapi ombak di lautmu sendiri sebelum kau temukan dermaga sebenarnya.” – halaman 235.

Bagi Sekar Purnomo, perjalanan untuk menemukan ‘dermaga’ yang sesungguhnya itu tadi bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Tak jarang kerikil-kerikil kecil yang juga tajam sering datang menghadang, memperlambat jalannya untuk menemukan ‘dermaga’ tersebut. Bahkan kerikil-kerikil tersebut juga sempat membuatnya berhenti untuk mencari ‘dermaga’ itu. Namun, ketekunan dan kerja keras memang tak pernah ingkar janji. Kedua hal tersebutlah yang pada akhirnya membawanya pada dermaga cita dan impiannya yang telah ia bangun dari kecil.
Sekar merupakan seorang gadis berparas ayu yang pintar dan juga menyenangkan. Demi meraih impiannya, selepas tamat SMA ia pergi merantau ke kota besar. Dari sanalah ia mulai membangun kariernya. Semuanya ia mulai dari titik terendah, bermula dari buruh pabrik garmen hingga pada akhirnya berhasil menjadi designer muda yang terkenal.

Mimpinya untuk dapat menjejaki tanah Paris pun tercapai berkat usaha dan kerja kerasnya. Namun ternyata, impiannya yang telah tercapai tersebut tidak kemudian menjadikannya merasa ‘bahagia’. Gemerlap cahaya dan kehangatan yang diciptakan Paris, tak membuat hatinya kunjung menghangat. Bukan sebab tak ada lelaki yang mendekatinya. Justru sebaliknya, banyak lelaki yang mengingkannya untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun, hati memang tak pernah bisa ditebak kemana ia akan berlabuh. Ia terus dan terus mencari. Hingga pada akhirnya, pencariannya yang sudah melanglang jauh tersebut berhenti pada seseorang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Cerita yang ditulis dengan alur maju-mundur ini disuguhkan dengan menarik. Tema utama memang masih tidak lepas dari persoalan hati. Namun, yang membuatnya berbeda disini adalah kepiawaian penulis yang membungkusnya dengan serba-serbi dunia fashion dan mengangkat ‘ke-lokal-an’ daerah asal Penulis. Sehingga, pembaca pun tak hanya disuguhi sebuah cerita saja. Namun, juga disuguhi sedikit wawasan seperti beberapa kosakata dalam dunia fashion, bahasa jawa dan juga bahasa perancis.
Ada beberapa latar tempat yang digunakan dalam penceritaan novel ini. Namun, latar utama berada saat Sekar –si tokoh utama, berada di Paris. Namun, arus flashback yang digunakan penulis membuat latar tempat lebih dominan saat Sekar mulai merintis kariernya di Jakarta. Cara penulis memainkan alur terbilang sangat halus. Beberapa twist di dalamnya cukup membuat kita sebagai pembaca akan merasa geregetan. Tokoh-tokoh lain seperti Candra, Yasak, dan Lukman pun membuat jalan cerita semakin hidup.
Hanya saja ada sedikit catatan kecil di sini. Pertama, pada bab pertama yang menceritakan pertemuan Sekar dengan seorang pemuda bernama Demian. Awalnya, Penulis menuliskan percakapan mereka sebutan dengan saya-anda, kemudian berubah menjadi saya-kamu dan kemudian kembali lagi menjadi saya-anda. Hal kecil ini seolah menunjukkan ketidak-konsistensi-an Penulis.
Pada bagian ini, penulis sebetulnya ingin menggambarkan bahwa antara Sekar dengan seorang pemuda yang baru saja dikenalnya tersebut sudah terjalin keakraban. Tidak salah jika Penulis menggambarkannya dengan sebutan saya-kamu. Namun, perubahan sebutan dari saya-kamu ke saya-anda pada dialog selanjutnya justru terasa membuat ‘anti-klimaks’. Perubahan tersebut justru terasa membuat pembaca melihat bahwa diantara keduanya belum terjalin keakraban.
Kedua, pada halaman 156 dituliskan bahwa Yasak merupakan anak bungsu dari Diamanta. Padahal, Yasak merupakan anak sulung (pembenaran argumen bahwa Yasak merupakan anak sulung dapat ditemukan pada halaman-halaman selanjutnya).
Ketiga, pengartian bahasa jawa ke bahasa Indonesia dalam beberapa dialog. Misalnya dialog antara Sekar dengan Bapaknya seperti dibawah ini,
“Siji meneh. Satu lagi. Kenanga itu bisa jadi perlambang bocah wadon. Wanita itu ibarat kenanga...”
Saya pribadi menganggap ini agak aneh. Jika, hanya sekali dua kali, hal ini tidak masalah untuk dilakukan. Namun, jika terlalu sering rasanya membosankan. Sebab Sekar di sini digambarkan sebagai gadis jawa yang sangat mengerti akan bahasa jawa. Ketika Bapaknya berbicara kepadanya dengan menggunakan bahasa jawa, logikanya Sekar pasti akan mengerti artinya. Bagi pembaca yang mengerti bahasa jawa pun kemungkinan juga akan sedikit merasa jenuh. Jika, memang penulis ingin mengartikannya kepada para pembaca yang tidak tahu artinya, mungkin akan lebih baik jika dituliskan ke dalam bentuk footnote.
Selebihnya, untuk masalah teknis tidak ada masalah. Cover buku dibuat sangat cantik. Margin halaman dan ukuran font pun sangat pas. Hanya saja bagi saya sendiri, saya merasa ukuran font agak terlihat lebih besar, atau mungkin itu hanya efek dari penggunaan jenis hurufnya yang ‘bulat-bulat’.
Satu hal lagi yang menjadi poin penting di sini, bahwa secara tersirat Mini GK banyak memberikan pesan melalui cerita dalam novel ini. Terutama mengenai usaha dan tidak mudah menyerah terhadap segala rintangan yang menghadang. Secara keseluruhan novel yang sederhana namun mengesankan ini layak untuk dimiliki.
Dan selamat membaca!

No comments:

Post a Comment