May 22, 2015

[Book Review] The Dancer


Ajeng: Menari Bersama Hidup
Sumber: goodreads

Judul : The Dancer
Penulis : Arthasalina
Penerbit : Mazola
Tahun terbit : September 2014
Jumlah halaman : 236 halaman
ISBN : 978-602-296-022-5
“Aku harus siap menjadi minoritas, ketika aku memilih menyuarakan budaya di tengah keterpurukan moral pemuda bangsa.” – halaman 30.

Berada di jalur ‘minoritas’. Begitulah jalan hidup yang dipilih oleh Ajeng. Cita-cita yang begitu kuat pada akhirnya membuat Ajeng mengesampingkan gelar sarjana yang diperolehnya. ‘Menunda’ kelulusannya hingga pada akhirnya baru lulus pada tahun ke-7 dan tak mau melanjutkan pendidikan koas merupakan bentuk ‘protes’ kepada ayahnya.
Ia lebih memilih menjadi seorang penari, seperti ibunya dulu. Dan tentu saja, tak mudah baginya untuk dapat mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penari. Restu ayahnya yang begitu sulit didapatkan menjadi penghalang terbesarnya. Namun, layaknya sebuah batu yang terus menerus ditetesi air, pada akhirnya sang ayah pun memberikan restunya pada Ajeng.

Ajeng memulai semuanya dari nol. Ia memulai kariernya dari panggung ke panggung festival. Dibantu dengan seorang temannya dan Bu Aini, jalan menuju cita-citanya pun semakin terbuka lebar. Ia juga berusaha ‘membangun’ kembali sanggar milik ibunya –Sanggar Prawesti, yang telah lama berhenti sejak sang ibu mulai sakit-sakitan.
Novel yang beralurkan progresif ini mengambil setting tempat di beberapa kota besar, yakni Semarang, Bandung, Yogyakarta, dan Solo. Penceritaan di dalamnya menggunakan sudut pandang orang ke-3 melalui ‘kacamata’ Ajeng dan Deden. Iya, jadi di sini tak hanya disuguhkan cerita tentang bagaimana lika-liku Ajeng untuk meraih impiannya saja. Namun, juga diceritakan tentang kehidupan Deden –mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Bandung, yang monoton. Deden nekat mengambil cuti dua semester –tepat sebelum mengerjakan tugas akhirnya.
Diksi yang digunakan pada masing-masing tokoh pun terbilang pas –Ajeng dengan kejawaannya dan Deden dengan kesunda-prokapannya. Ajeng digambarkan sebagai anak yang kalem, low-profile, dan tidak mudah menyerah. Sedangkan, Deden digambarkan sebagai anak yang agak songong –tipikal anak-anak metropolitan, berani mengambil resiko, dan juga memiliki wawasan yang cukup luas.
FYI, saya sangat suka dengan penceritaan melalui sudut pandang Deden, terkesan ‘bebas’ dan lebih hidup. Saya pikir itu sangat tepat, mengingat penceritaan melalui sudut pandang Ajeng agak sedikit ‘kaku’. Meski diceritakan melalui dua kacamata, namun pembagian porsi antara keduanya cukup pas dan sama sekali tak menghilangkan fokus utamanya, yakni jatuh bangun Ajeng untuk meraih citanya.
Dari saya pribadi, yang menjadi catatan dari segi cerita ada pada di halaman 31, yakni peralihan kacamata penceritaan dari Ajeng ke Deden. Bagi saya pribadi, bagian tersebut terasa sedikit aneh. Pikiran pembaca dari awal sudah dihadapkan pada cerita mengenai Ajeng, tapi tiba-tiba seakan ‘dipaksa’ menengok keberadaan Deden. Memang sudah diberi ‘tanda’ pergantian cerita pada bagian bawah di halaman 31. Akan tetapi, saya merasa akan lebih tepat jika sebaiknya dibuat menjadi bab baru saja.
Yang lagi cukup disayangkan adalah plot ceritanya yang sangat mudah untuk ditebak dari awal. Akan tetapi, eksekusi bagian akhir cerita saya dipikir harus diberikan apresiasi tersendiri. Ya, penulis cukup berhasil menuliskan ending cerita dengan manis. Poin lain yang juga harus diapresiasi adalah bagaimana penulis banyak memasukan unsur kearifan lokal.
Selanjutnya, sedikit catatan untuk segi teknis. Pertama ada di halaman 28, dimana macan panggung dituliskan dengan “macan panggung –kurang tanda petik di akhir kalimat. Kedua, ada pada sampulnya. Terlepas dari apakah itu cukup representatif atau tidak, cover buku ini terkesan terlalu penuh –tidak ada tempat untuk ‘bernafas’. Dan lagi, gambar tangan si penari bentuknya juga terlihat sedikit aneh. Kemudian, bagian halaman dalam yang diberikan border, lagi-lagi juga memberikan kesan yang terlalu penuh. Selebihnya, untuk aspek-aspek yang lain dirasa sudah cukup pas dan tak perlu ada yang dirisaukan lagi.
Dan akhirnya, selamat membaca sendiri!

No comments:

Post a Comment