May 22, 2015

[Book Review] Cinta Cowok DL-ers


Sepidirman Mengejar Jodoh
Sumber: goodreads

Judul : Cinta Cowok DL-ers
Penulis : Artie Ahmad
Penerbit : Mazola
Tahun Terbit : 2014
Jumlah Halaman : 228 halaman
ISBN : 978-602-296-010-2
“... hati yang patah, cinta yang belum sampai tak perlu ditangisi dan diratapi, Man, melainkan harus diperjuangkan.” – halaman 50.

Dan begitulah Dirman, meski sempat menangisi nasibnya karena ditolak gadis idamannya, pada akhirnya ia bangkit kembali. Bangkit untuk mengejar cinta sang gadis. Tak peduli ia harus berkorban hingga titik duit –yang dipinjamnya dari Hari, penghabisan. Sepidirman, atau pemuda yang sering dipanggil Dirman ini adalah seseorang yang “unik”, norak nggak ketulungan, dan punya taraf kepedean yang tingginya selangit.
Singkat cerita, ia cinta setengah mati dengan seorang gadis bernama Meri Jeni, seorang punggawa cheerleader yang punya banyak penggemar. Awal mula kenapa Dirman bisa jatuh cinta terhadap sang gadis itu sendiri adalah pada saat lomba bakiak di sekolah. Di tengah lagi megap-megapnya karena kehabisan nafas tiba-tiba matanya tertuju pada sosok Meri yang sedang melompat-lompat menyemangati. Dan bagaikan melihat seorang bidadari yang turun dari kayangan, saat itu juga tiba-tiba tenaga Dirman yang tadinya terserap habis muncul kembali, hingga akhirnya ia bisa memenangkan perlombaan.

Nah, bisa dibilang saat itu Dirman mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan semenjak saat itu pula beragam daya dan upaya kemudian ia kerahkan untuk mendapatkan perhatian sang gadis. Tapi, dia selalu saja tak beruntung, semua usahanya gagal total. Mulai dari pendekatan dengan roti bakar, nonton, membawakan kembang –setaman, dan bahkan nekat mau melet Jeni segala.
Konflik utama novel ini adalah bahwa dalam mengejar cintanya –si Meri Jeni, ternyata si Dirman tidak sendirian. Maksudnya, ia memiliki beberapa pesaing. Pertama, adalah Peter Parkir, seorang anak juragan lahan parkir yang kaya raya dan (lebih) ganteng (daripada Dirman). Lalu, yang kedua adalah Clark Suparman, yang jauh lebih kaya dan ganteng daripada Peter Parkir dan Dirman.
Sebetulnya, pada awalnya Dirman hanya tahu jika saingannya hanyalah si Peter. Namun, pada suatu waktu, saat ia –tak sengaja, bersama Peter datang ke rumah Meri, ia melihat Meri tengah bersama pacarnya. Melihat hal tersebut, tentu tak hanya hati Dirman saja yang sakit, namun juga Peter. Singkatnya, karena merasa bersalah karena telah mematahkan hati Dirman dan Peter, Meri pun akhirnya membuat sayembara. Dan pemenang sayembara tersebutlah yang nantinya akan menjadi kekasihnya.
Sayembara itu sendiri berisi tiga tantangan. Pertama, memandikan dan memberi makan Bleki –kambing kesayangan Meri Jeni. Kedua, mempraktekan yoga ala Meri Jeni, yakni bergaya ala kalong di pohon belakang rumahnya. Dan terakhir, membawa apem –makanan favorit Meri Jeni. Mendengar tantangan yang pertama saja, Dirman sempat ragu untuk menyetujuinya. Sebab Bleki tak pernah akur jika bertemu Dirman, selalu saja mengejar dan menyeruduk Dirman. Namun, seperti kutipan diawal tadi, pada akhirnya Dirman pun menyetujuinya. Apapun akan ia perjuangkan demi mendapatkan cinta sang gadis pujaan.
Dilihat dari nama tokohnya saja, kita pasti akan dengan mudah menebak bahwa novel dengan sudut pandang orang ketiga ini ditulis dengan gaya penceritaan kocak. Akan tetapi, bagi saya sendiri meski cerita ditulis dengan gaya kocak, kekocakan cerita hanya saya jumpai pada beberapa bagian saja. Selebihnya, cenderung datar dan mungkin sedikit berlebihan. Ah, ya dan lagi, entah apa mungkin sayanya saja yang kurang membaca novel ini dengan seksama, hingga saat ini –di mana saya menulis tulisan ini, saya masih belum memahami mengapa diberi judul “Cinta Cowok DL-ers”. Yang saya bingungkan adalah apa maksud dari “DL-ers”-nya.
Kemudian, untuk bagian blurb, saya pribadi menilai cukup baik. Cukup baik di sini dalam artian bahwa blurb-nya sudah sangat sesuai. Sudah menggambarkan inti cerita –lebih tepatnya konflik, dalam novel ini. Masuk ke segi teknis, dari mulai pemilihan warna, jenis huruf, gambar, dan tata letak tidak terdapat permasalah yang berarti. Warna biru dijadikan dominan di sini karena dianggap sebagai “simbol”, bahwa si tokoh utama adalah laki-laki. Tata letaknya sendiri meski biasa, namun tidak menimbulkan kesan tidak enak dilihat. Lalu, gambarnya juga sudah cukup representatif. Catatan saya hanya pada masalah jenis huruf yang digunakan untuk penulisan nama penulis saja. Terlalu berlebihan buat saya, alangkah lebih baik dibuat biasa saja –tidak dengan huruf kecil dan kapital, untuk “mengimbangi” jenis huruf yang digunakan pada judul.
Nah, selebihnya tak ada lagi yang bermasalah pada novel ini. Akhirnya, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment