May 21, 2015

[Book Review] Better with You


Berkelana ke Jepang lewat "Better With You"
Sumber: goodreads

Judul : Better With You
Penulis : Krisan Tania
Penerbit : Senja
Tahun terbit : September 2014
Jumlah halaman : 220 halaman
ISBN : 978-602-255-323-6

“Banyak orang mengharapkan kebahagiaan di dunia ini, semua berlomba-lomba untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut. Tapi kebahagiaan tidak hanya datang dari perjuangan dan tekad yang kuat, tapi juga kerelaan dari orang lain untuk membiarkan kita bahagia dan memilih jalan kita masing-masing.” – halaman 216.
Kutipan di atas saya pikir merupakan ‘ringkasan’ yang paling tepat dari isi cerita novel ini. Cerita bermula dari saat di mana klub mading yang diikuti Shena akan mengkuti Festival Komaba-Sai di kampus Komaba. Dalam pembagian tugas untuk menggarap isi mading tersebut, Shena kebagian untuk menulis artikel mengenai Hiroshi Takuya –seorang penyanyi, penulis lagu, sekaligus komposer muda idola anak muda Jepang.
Shena sendiri sebetulnya tidak tahu menahu mengenai Hiroshi Takuya. Ia mendapatkan tugas tersebut hanya karena teman-temannya tahu bahwa ia berteman dekat dengan Hiroshi Takumi yang notabene merupakan adik dari Hiroshi Takuya. Shena pun tak kuasa menolak tugas tersebut, karena temannya sangat berharap padanya.
Namun begitu, bukan berarti perjuangan Shena untuk dapat bertemu dan mewawancarai Takuya dapat dengan mudah terselesaikan dalam waktu singkat. Takuya memberikan persyaratan-persyaratan yang cukup rumit kepada Shena kalau ia ingin mewawancarainya. Shena hanya diberikan waktu tiga minggu dan dalam seminggunya hanya bisa bertemu dua kali. Sedang, pada setiap pertemuan ia hanya bisa mengajukan tiga buah pertanyaan.

Syarat yang diajukan Takuya tersebut memang sengaja diberikan untuk mempersulit jalan Shena agar ia mengerti bahwa untuk mencapai sebuah tujuan, perjuangan dan tekad yang kuat itu sangatlah diperlukan. Tentu hal tersebut cukup menjengkalkan Shena. Namun, Shena tak kuasa pula untuk mengajukan keberatan. Baginya apapun tetap akan dilakukannya asalkan ia dapat mewawancarai Takuya.
Dari situlah kemudian mereka pun semakin dekat. Dan tanpa disadari sebelumnya, Takuya pun pada akhirnya jatuh hati terhadap Shena. Namun, kembalinya Ryuuji dalam kehidupan Shena membuat Takuya kemudian menjaga jarak dengannya.
“Better with You” merupakan novel yang sangat ‘renyah’ dan ringan untuk dibaca dikala senggang. Maka tak heran pula jika novel ini ditempatkan sebagai novel dengan segmen remaja. Tak hanya ringan, kisah di dalamnya pun sangat khas dengan sentuhan permasalahan-permasalahan yang sering dihadapi remaja. Dan tentunya juga tak jauh-jauh dari soal cinta.
Shena dan Takuya merupakan dua tokoh sentral yang ada pada novel ini. Takuya digambarkan sebagai sosok yang arogan dan sulit untuk beramah-tamah dengan orang lain. Sedang, Shena sendirii merupakan seorang gadis yang tidak mudah menyerah dan bertanggung jawab. Disamping kedua tokoh tersebut, tentunya juga ada beberapa tokoh lain yang membuat cerita dapat lebih hidup, diantaranya, yakni Shinjou –manajer Takuya yang ramah, Takumi –adik Takuya yang baik hati dan juga kekekasih Shena –Ryuuji.
Penulis menuliskan cerita ini dengan sudut pandang orang ketiga. Yang menarik adalah soal setting tempatnya. Saya pikir –disamping tentunya (mungkin) si Penulis sangat terobsesi dengan Jepang, riset yang ia lakukan terbilang cukup mendalam. Kesungguhannya dalam melakukan ‘riset kecil-kecilan’ ini dapat dilihat dari lembar-lembar terakhir novel ini.
Deskripsinya –terlebih untuk latar tempatnya, saya pikir cukup detail. Akan tetapi, karena saya sendiri sangat ‘buta’ Jepang, jujur saja agak sulit bagi saya untuk membayangkan dengan sempurna mengenai deskripsi yang dituliskannya tersebut.
Yang menjadi catatan kecil di sini sebetulnya lebih kepada maslah teknis. Seperti pada beberapa kata dan kalimat masih dijumpai huruf-hurut ataupun kata yang ‘menghilang’. Misalnya saja seperti pada halaman 49 di bagian footnote, ketegasan tertulis dengan ketegasa. Dan pada halaman 59, terdapat sebuah dialog yang tertulis “Oh ya, untuk yang waktu terimakasih karena sudah menolong...”, saya pikir kalimat tersebut kekurangan kata “itu” setelah kata “waktu”.
Tambahan sedikit untuk sampul novel. Meski bauran antara warna dan gambar yang ada pada novel cukup serasi, saya pribadi menganggap cover novel tersebut kurang representatif terhadap isi cerita. Sampulnya kurang mengundang dan tidak memberikan gambaran apapun mengenai isi cerita.
Untuk selebihnya, tak ada yang perlu dirisaukan lagi dari novel ini. Akhirnya, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment