May 21, 2015

[Book Review] The Banker


Serendipity
Sumber: goodreads

Judul : The Banker
Penulis : Ranny Afandi
Penerbit : Mazola
Tahun terbit : Agustus 2014
Jumlah halaman : 316 halaman
ISBN : 978-602-255-643-5

“Kalau kita ketemu kelak, it means what happened to us is called serendipity” – halaman 12.
Kisah Arkha ini bermula dari pertemuannya dengan seorang perempuan berparas cantik di kabin maskapai penerbangan Singapura. Dalam penerbangan dari Singapura menuju Jakarta kala itu, ia pun menyempatkan diri untuk bercakap-cakap dengan perempuan yang duduk di sampingnya tersebut. Mereka berdua larut dalam obrolan panjang tentang novel, traveling, budaya dan film.
Tanpa terasa satu setengah jam berlalu dengan begitu cepatnya. Pesawat yang mereka tumpangi pun akhirnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Perpisahan pun menjadi akhir dari perjumpaan mereka setelah masing-masing mengambil koper miliknya di pengambilan bagasi.

Setelah salam perpisahan diucapkan pun Arkha baru menyadari bahwa mereka belum sempat berkenalan. Ia pun berbalik, matanya menyapu tempat di mana ia berdiri. Namun pandangannya terhalang oleh orang-orang yang sedang menunggu jemputan, bayangan perempuan itu pun tak berhasil ia temukan. Dan Arkha hanya bisa merutuki kebodohannya tersebut.
Berselang beberapa tahun kemudian, suatu kejadian yang tak pernah dibayangkannya kembali membawanya bertemu dengan sosok perempuan cantik itu. Sebetulnya, saat pertama kali bertemu lagi, ia tak langsung menyadari bahwa perempuan yang ada dihadapannya adalah perempuan yang ditemuinya di pesawat tahun 2008 dulu. Ia sendiri baru tersadar setelah beberapa kali jalan bersama si gadis itu. Singkatnya, berjumpanya kembali ia dengan sang gadis itu, menjadi babak baru dalam kehidupannya.
Cerita pada novel ini ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama melalui ‘kacamata’ Arkha si Banker –yang berperawakan atletis, berkelakuan sopan dan bertanggung jawab, dan Kania si gadis berparas ayu dan juga mandiri –yang rela pindah ke Indonesia demi membangun usaha keluarga yang hampir bangkrut.
Tentu cerita di dalamnya tak hanya seputar kisah antara Arkha dan Kania saja. Banyak konflik yang akan dijumpai di dalamnya. Salah satunya perihal pekerjaan Arkha sebagai seorang banker yang sangat memusingkan. Kasus ‘main belakang’ yang dilakukan oleh seorang teman kantornya membuatnya tak bisa diam begitu saja, sebab hal tersebut menyangkut ‘hidup mati’ divisinya.
Begitu pun mengenai kemunculan Dina –sahabat Arkha, yang tiba-tiba kembali dan seakan seperti memberikan ‘kode’ lagi terhadap perasaannya kepada Dina dulu. Tak pelak kemunculan Dina tersebut juga merembet pada hubungannya dengan Kania. Kesalahpahaman pun tak terhindarkan antara keduanya.
Yang menjadi poin plus dari novel yang beralurkan maju ini adalah ‘kerenyahannya’. Iya, novel ini memang cukup ringan dan tentunya mengasyikkan. Akan tetapi, keringanannya tersebut tidak kemudian menjadikannya seperti novel teenlit, saya lebih setuju kalau novel ini digolongkan dalam jenis metropop.
Pada intinya, tema yang diangkat memang tak jauh-jauh dari yang namanya cinta. Namun, bumbu-bumbu kehidupan seorang banker di sini membuat novel ini menjadi berbeda. Setting tempat pun diambil di Kota Solo. Bagi saya, ini cukup menarik. Mengingat bahwa novel yang mengangkat profesi yang ‘wah’ –salah satunya seperti banker, sebagai isyu utama biasanya dihadapkan pada realita yang kehidupannya ada di kota metropolitan dan terlalu menonjolkan ke-sosialita-an.
Nah, kehidupan kaum sosialita memang juga digambarkan pada novel ini –dapat dijumpai pada gambaran tentang Tina. Namun, penggambarannya tidak terlalu muluk. Pas, tidak berlebihan. Kemudian, untuk akhir cerita sendiri sebetulnya tak perlu untuk diberitahu pun saya pikir para pembaca juga akan bisa menerka-nerka dengan sendirinya. Dan karena itulah, saya menilai bahwa yang ‘dijual’ di sini bukan pada akhir ceritanya, melainkan pada konflik-konfliknya.
Selebihnya, untuk masalah dari segi cerita memang tak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Sebaliknya, perhatian harus lebih diberikan di segi teknis. Seperti kurang huruf dalam penulisan, direktur risk ditulis menjadi direktur rsk (tanpa “i”). Kemudian di halaman 46, pada kalimat “Targetku dari 500 juta berkurang 3 juta...”, saya rasa yang tertulis harusnya 300 juta, bukan 3 juta –pembenaran dapat dilihat pada halaman sebelumnya. Pada halaman sebelumnya sangat jelas bahwa yang dibahas adalah nominal 300 juta bukan 3 juta.
Untuk masalah design halaman dalam dan sampul, halaman dalam (yang ada pada setiap permulaan bab) saya pikir lebih menarik dari pada design sampulnya. Meski memang harus diakui bahwa sampulnya memang sudah cukup representatif. Dan ya, sedikit catatan saja –entah sudah berapa kali saya katakan mengenai hal ini, bahwa mungkin akan lebih baik jika design halaman (yang ada background-nya) hanya diberikan pada setiap permulaan bab saja. Sebab, jika terlalu banyak halaman yang diberi background atau border (atau apalah itu namanya) bergambar yang ditakutkan adalah hal tersebut justru ‘mengganggu’ mata.
Satu lagi, meski ini sepele namun saya pikir ini juga perlu untuk diperhatikan, tentang ukuran font pada ucapan terima kasih yang terlalu besar. Hal tersebut seakan menjadi sedikit ‘mengganggu’ mengingat bahwa ukuran huruf yang dipakai untuk penulisan ceritanya sendiri lebih kecil dan sudah pas untuk dibaca.
Akhirnya, selamat membaca!

No comments:

Post a Comment