March 16, 2017

Kekosongan di antara kita

Sumber: Pinterest

Begini saja, biar kuceritakan kegundahanku pelan-pelan agar kau mengerti.

Pertama, aku tak memintamu, tak pernah memintamu, untuk memberi kabar padaku setiap hari. Seminggu sekali pun cukup, asal kamu sehat, bahagia, dan baik-baik saja. Aku juga tak menuntutmu untuk selalu menemuiku setiap hari. Dua minggu sekali pun, kupikir cukup, karena toh bukankah kau dan aku memiliki kesibukan sendiri-sendiri yang mana sangat berbeda? Lebih dari itu, bukankah kau dan aku tetap butuh jarak dan waktu untuk saling menata hati dan pikiran masing-masing?

Bukan itu, sayang. Bukan. Kamu salah apabila menduga dua hal itu yang menjadi sebab-musabab atas kegundahanku.

Lalu apa? Pasti kalimat itu kan yang akan kau lontarkan padaku?

Pertama, dari gesturmu, sayang. Kedua, dari sikapmu. Kamu mulai tak acuh padaku sejak entah-sekian-minggu-berlalu. Aku bukannya bermaksud untuk mengemis kepedulianmu, mengemis perhatianmu. Tapi, kau tak biasanya begitu, sehingga kemudian aku menjadi bertanya-tanya soal: mengapa? Pun begitu gesturmu. Kau seperti membangun tembok yang tak nampak setiap kali dekat denganku. Kau menjaga jarakmu secara teratur saat berdiri di dekatku. Tak ada lagi rangkul, peluk, juga kecup. Bahkan, di hari terakhir kita bertemu, yang entah kapan itu, kau tak mengijinkanku untuk sekedar menyentuhmu. Kau menghindar setiap aku bahkan hanya sekedar ingin menyentuh lenganmu untuk menenangkanmu. Kau memperlakukanku seakan aku tengah mengidap penyakit menular. Atau memang begitu? Bahwa aku ini, bagimu, adalah sebuah penyakit? Parasit?

Aku tak masalah untuk kau diamkan. Aku juga tak masalah untuk tak kau temui, sayang. Aku paham kesibukanmu. Aku paham tuntutan-tuntutan yang sedang kau panggul. Oh, ataukah selama ini aku hanya merasa paham sajakah, padahal sejatinya tidak bagimu?

Aku gundah karena aku tak mengerti tentang apa yang terjadi padamu saat ini sehingga kau memperlakukanku demikian, sayang. Tak bisakah kau katakan saja jika aku telah melakukan sebuah kesalahan, mungkin? Aku merasa lebih baik jika kau cerca aku daripada kau diamkan begini tanpa aku tahu perihal mengapa.

Jika kau bertanya-tanya pula soal: mengapa aku juga tidak menghubungimu selama entah-sekian-minggu ini, itu bukan karena aku marah padamu atau apa-pun-lah itu. Aku hanya mencoba untuk mengertimu dengan memberikan ruang dan waktu padamu. Sebab, kupikir: oh, mungkin kamu sedang ingin sendiri; oh, mungkin kamu sedang ingin fokus mengerjakan suatu hal dan tak ingin terganggu oleh siapapun termasuk aku.


Jika memang begitu, maka katakanlah, sayang. Aku akan mencoba mengerti. Tapi, jika tidak begitu, maka ungkapkanlah yang sesungguhnya. Jawablah pertanyaanku. Tak perlu kau ceritakan secara mendetail jika memang tidak ingin. Aku tak akan memaksamu. Aku tak mau kau merasa tak nyaman denganku. Tapi, tolong, jangan biarkan aku tersesat dalam ketidaktahuan seperti ini.

Jadi, apa yang sebetulnya tengah terjadi di antara kita, sayang?

No comments:

Post a Comment