October 11, 2016

Tanya yang Tak Pernah Terjawab

Sumber: tumblr

(I) 
Malam lalu, kita kembali bertemu
untuk melepas rindu, katamu
aku bersandar di dadamu,
sembari memeluk erat pinggangmu
sementara kau mengusap kepalaku
membelai tiap helai rambutku yang tergerai.

Saat itu, kita terjebak dalam kesunyian
yang tak disangka justru menemtramkan.
Kita berdua diam,
hanya hembusan nafas yang terdengar,
pelan,
sunyi,
tentram.

Hingga kemudian kau berucap:
“Aku menyayangimu,” katamu
begitu pula aku, sangat menyayangimu, batinku
“Tapi aku tak bisa berbuat banyak,” tambahmu
kenapa, tanyaku, namun tak kusuarakan
hanya mataku yang mampu berbicara saat itu
aku menatapmu dengan nanar
“Maaf, Ya, aku yakin kau pasti sudah tahu apa alasannya.”

Jadi kau anggap apa aku selama ini?
Persinggahan sementaramu di saat bosan?

“Maaf, Ya, aku tahu sedari awal aku salah. Aku hanya tak bisa melepasmu, Ya, tapi aku sadar aku juga tak bisa memperjuangkanmu,” jelasmu.

Sedari awal aku juga tahu bahwa jurang yang menghadang kita amatlah dalam, ratapku.
Hanya saja aku tak menyangka bahwa ini akan berakhir semenyakitkan ini.

“Lalu, bagaimana?” ujarku, masih dengan menatapmu lekat-lekat.
Tapi, kau hanya terdiam.
Hingga tanpa sadar, air mataku mulai berderai.
Tak tahan lagi dengan sakit yang menghujam, aku terisak hebat di dadamu.
Pelukkanmu pun makin erat.
Sesekali kau cium pula keningku.

“Maafkan aku, Ya. Aku menyayangimu, selalu. Maaf, aku telah membuatmu menderita.”
“Jadi, sekarang bagaimana? Akan kita kemanakan semua ini?” tanyaku di sela-sela deraian air mata.
“Aku tak tahu, Ya, yang kutahu, aku hanya tak bisa melepasmu.”



(II) 
Setelah malam itu, kutinggalkan kamu sendirian
aku meninggalkanmu dalam keterpatungan.
Di sudut kasur itu, kau duduk kebingungan
terpekur dengan apa yang aku lakukan.
Bagaimana kau bisa, bagaimana mungkin kau akan meninggalkanku? tanyamu kala itu.

Sayangnya, kala itu aku terlalu tuli untuk mendengar
terlalu tak peka untuk bisa merasa
dan terlalu bebal pula untuk berpikir.

Cukup sudah, batinku waktu itu.
Jika kau tidak bisa menentukan masa depan kita,
dan tak bisa untuk mengakhiri ini semua,
maka biarlah aku yang menentukan, biarlah aku yang mengakhiri.

Dan begitulah yang terjadi.

Dengan segenap jiwa yang masih tersisa,
dengan segenap kewarasan yang masih terjaga
aku berjalan,
menyusuri gelap dan sepinya malam
mencoba menata puing-puing kehidupan
mencoba kembali menata perasaan
agar nanti bisa kembali kurasakan kebahagiaan
agar nanti bisa kembali kurasakan kehangatan semesta.


Sumber: weheartit

No comments:

Post a Comment