October 12, 2016

Karena Dia Sudah Lebih Dulu

Sumber: tumblr.com



“Apa pernah aku menuntut kamu? Apa pernah aku memintamu untuk meluangkan waktumu, khusus, hanya untukku? Kumohon, ingatlah kembali! Sama sekali tidak pernah, bukan?”

"..."

“Aku bisa saja berlaku jahat. Aku bisa saja semena-mena terhadapnya. Tapi itu tidak kulakukan. Selama ini aku menahan diriku sekuat mungkin. Aku masih menahan diriku, asal kau tahu itu! Aku tak pernah minta untuk kau menemaniku. Aku tak pernah minta untuk kau memelukku, menemani tidurku.”

"..."

“Dan kini tiba-tiba kau bertanya bagaimana perasaanku? Apakah aku baik-baik saja dengan apa yang sudah terjadi selama ini? Apakah aku baik-baik saja dengan relasi macam ini? Apakah aku tidak tersinggung, dst? Kau ini gila atau sudah tak punya hati?”

"..."

“Taukah kamu, bahwa aku tidak bisa untuk tidak marah saat kau mempertanyakan semua itu? Tahukah kamu, bahwa aku sakit saat mendengar tanyamu? Sadarkah kamu aku sangat terluka waktu itu? Sadarkah kamu jika seakan-akan dirimu menyuruhku untuk mundur dan menyudahi semua ini? Memosisikan aku seakan aku adalah satu-satunya pihak yang membuat semua ini semakin pelik. Kamu sadar itu?”

"..."

“Dan pertanyaan besar yang muncul di benakku kala itu hingga saat ini: Mengapa harus aku yang menyudahi? Mengapa harus aku yang memulai untuk mundur? Kita melakukan semua ini bersama. Kita menjalani dan melewati semua ini berdua. Tapi, mengapa harus aku yang mengalah? Apa karena aku adalah orang ketiga di antara kalian? Bagaimana kalau posisinya kubalik, dia adalah orang ketiga di antara kita?”

“Karena aku lebih dulu berjumpa dengannya sebelum berjumpa denganmu. Karena aku sudah memilihnya lebih dulu dari kamu.



No comments:

Post a Comment